Posted on

BAB 6

This post is part of the series EAS

This post is part of the series EASYGOING COUPLE

Other posts in this series:

  1. BAB 4
  2. BAB 5
  3. BAB 6 (Current)
  4. BAB 7
  5. BAB 8

Malam ini bulan tampak sangat terang dengan cahaya yang mengelilinya. Tapi tidak bagi Yuki yang pikirannya saat ini sangatlah mendung. Ia cukup bingung dengan rencananya dan Riyu yang hendak bekerja sama. Ia belum bekerja sama dalam waktu yang cukup lama. Bahkan Ia sampai lupa kapan terakhir kali Ia bekerja sama. Dan malam ini Ia memutuskan berjalan-jalan di taman untuk menyegarkan pikirannya.

Sesampai di taman, Ia merasa bingung mau kemana. Yuki hanya berjalan mengikuti langkah kaki. Ia melihat ke sekeliling yang kebanyakan dari mereka sedang berpasang-pasangan. Yuki merasa bosan melihat orang-orang yang berpasangan dan pandangannya kemudian menuju ke danau yang tidak terlalu jauh dari sana.di dekat danau sana ada sebuah bangku taman yang tampak kosong. Tapi di depan bangku itu Ia melihat seseorang yang tampak sedang melempar batu ke arah danau. Yuki merasa tidak peduli dan terus jalan ke arah danau.

Yuki duduk di bangku taman itu dengan tatapan yang spontan menuju ke arah pria itu. Untuk sekilas, Yuki seperti pernah melihat pria itu jika dilihat dari belakang. Tapi Yuki tidak mau berpikir panjang. Yuki memasang earphone untuk mendengarkan musik dan kemudian Ia menutup kedua matanya. Ia berusaha mencari sebuah inspirasi. Saat sedang enaknya menutup kedua mata sambil berimajinasi, ada sentuhan yang cukup kasar di kakinya yang cukup untuk membangunkan Yuki.

“Apa yang kau lakukan disini?? Kau mengikutiku??” tanya pria yang tadi bermain lempar batu ke danau yang ternyata Ia adalah Riyu. Yuki cukup terkejut melihat penampilan Riyu yang hanya mengenakan celana pendek selutut dengan kaos yang cukup besar baginya dan juga rambut acak-acakan. Dan yang ada di pikiran Yuki adalah SAMA. Saat ini Yuki juga mengenakan kaos yang cukup besar baginya dengan celana pendek dan juga rambut yang Ia ikat asal.

“Jangan kegeeran!!!” jawab Yuki dengan cueknya dan kembali menutup kedua matanya.

“Jujur saja. Kenapa kau selalu melakukan hal yang sama denganku?? Apa kau segitunya menyukaiku??” tanya Riyu dengan pedenya.

“Apa kau sudah gila??” tanpa membuka matanya, Yuki berkomentar dengan pedasnya. Yuki merasakan seseorang duduk di sebelahnya.

“Lupakan!! Pikiranku sedang tidak karuan,” ucap Riyu yang duduk di samping Yuki dan memejamkan kedua matanya menikmati udara di tepi danau dan suara berisik orang-orang sekitar yang terdengar jelas.

Yuki hanya diam saja sambil memejamkan kedua matanya. Ia sedang menikmati musik dari earphonenya. Tapi Ia merasa suasana sepi saat ini berbeda dengan suasana sepi yang biasa Yuki rasakan. Entah kenapa Yuki penasaran dengan apa yang dilakukan Riyu di sebelahnya yang tanpa suara sedikitpun. Perlahan Yuki membuka kedua matanya dan melihat ke arah Riyu. Dan ternyata disaat yang sama Riyu juga menoleh ke arah Yuki.

DEG…

Yuki dan Riyu saling bertatapan selama beberapa detik kemudian saling memalingkan kepala masing-masing.

‘Kenapa kita selalu melakukan hal secara bebarengan?? Barusan itu bukan saat yang tepat. Membuatku kaget saja,’ celoteh Yuki dari dalam hati. Hal yang Ia lakukan barusan entah kenapa membuat jantungnya berdegub lumayan kencang dan juga seperti salah tingkah. Ini buat pertama kalinya Ia melakukan hal yang sama dengan Riyu. Tapi hal itu tidak membuatnya benci, melainkan penasaran.

Sedangkan Riyu sendiri juga memalingkan kepalanya sambil mengusap rambutnya sendiri secara kasar. Riyu juga tampak sedikit salah tingkah setelah saling bertatapan tanpa sengaja dengan Yuki.

“Ehm… Ini bukan pertama kalinya kita melakukan sesuatu secara bersamaan,” ucap Riyu yang membuka percakapan terlebih dahulu. Awalnya Riyu terlalu gengsi untuk memulai percakapan. Tapi perasaannya tidak enak jika terus berdiam diri seperti itu. Entah kenapa saat ini Riyu tampak ingin berbicara dengan Yuki.

“Iya, aku tau. aku juga heran bagaimana kita bisa melakukan hal-hal secara bersamaan,” jawab Yuki yang berusaha mengembalikan detak jantungnya supaya berdetak dengan normal.

“Bukankah menurutmu ini bisa menjadi kelebihan kita??” tanya Riyu dengan sedikit ragu Ia berusaha membahas tentang kerjasamanya dengan Yuki dalam project komik digital ini.

“Tentang bekerja sama??” tanya Yuki yang mengembalikan pertanyaan Riyu dan tampak berpura-pura tidak tau. sejujurnya Ia juga memikirkan hal yang sama dengan Riyu. Bahkan di dalam pikiranpun mereka memikirkan hal yang sama. Sebenarnya mereka adalah kelompok yang paling sempurna.

“Menurutmu tentang apa lagi?? Aku mengakui kelebihanmu dan tampaknya kau juga mengakui kelebihanku. Tidak ada salahnya kalau kita benar-benar mengikuti omongan Pak Bagus tanpa ada perselisihan seperti kemaren. Kita sepertinya memang harus benar-benar bekerja sama,” untuk pertama kalinya Riyu berkomentar secara panjang lebar. Biasanya Ia akan bicara cukup panjang hanya saat presentasi atau berbicara dengan dosen. Tapi saat ini Ia berkomentar secara panjang lebar kepada Yuki.

“Aku juga memikirkan hal yang sama. Hanya saja yang aku ragukan, aku tidak bisa bekerja sama sebelumnya. Aku selalu melakukan semuanya sendiri,” jawab Yuki dengan tegas dan nada dinginnya yang sama dengan udara malam itu.

“Sama. Tampaknya kita benar-benar sama. Kalau kita benar-benar sama selayaknya orang kembar, bekerja sama seharusnya bukan hal yang susah. Intinya sekarang apa kau mau bekerja sama secara serius denganku?? Ingatlah, aku melakukan hal ini hanya padamu. Seharusnya kau merasa tersanjung,” celoteh Riyu yang mulai menyebalkan. Entah sejak kapan Riyu mulai menunjukkan sifat menyebalkannya. Padahal Ia selalu cuek dan kasar kepada yang lainnya tapi Ia melakukan hal yang berbeda kepada Yuki.

“Suatu kehormatan bagiku menerima tawaran seperti itu darimu. Tapi, baiklah. Aku akan coba. Sekali-sekali bekerja sama apa salahnya,” jawab Yuki dengan entengnya sambil tersenyum tipis kepada Riyu yang juga tampak sedikit senang. Mereka bahkan saling bersalaman sebagai tanda persetujun dari perjanjian kerja sama ini.

¨¨¨

Setelah perjanjian kerja sama semalam, Yuki dan Riyu menjadi lebih dekat. Mereka sekarang sering saling bertukar pikiran. Tapi tidak jarang juga mereka saling tengkar dalam membahas project ini. Lucunya dari pertengkaran mereka adalah, pertengkaran mereka bukan saling menyalahkan orang lain tapi malah sebaliknya, yaitu saling menyalahkan diri sendiri dan membenarkan orang lain. Mereka berdua saling menghargai karya satu sama lain dan menganggap karya orang lain itu jauh lebih bagus dari miliknya sendiri. Dan akan terus seperti itu hal yang selalu mereka debatkan. Tapi walaupun seperti itu, pertengkaran mereka tidak membuat mereka putus asa dalam bekerja sama. Saat sudah saling tengkar dan berdebat, mereka akan menemui Pak Bagus supaya menjadi penengah dari perdebatan mereka. Kadang kala Pak Bagus merasa geram dengan Yuki dan Riyu tapi disisi lain Pak Bagus merasa senang dengan perkembangan mahasiswanya dalam hal berekra sama. Karena bekerja sama itu sangat penting bagi diri sendiri dan juga orang lain.

Continue reading this series: