Posted on

BAB 5

This post is part of the series EASYGOING COUPLE

Other posts in this series:

  1. BAB 3
  2. BAB 4
  3. BAB 5 (Current)
  4. BAB 6
  5. BAB 7

Hah… Hah… Hah… Nafas mereka berdua mulai terengah-engah saat sudah di depan ruangan Pak Bagus. Mereka saling pandang dan melirik satu sama lain. Keringat mulai mengucur dari kening masing-masing. Riyu bersandar tepat di pintu ruangan Pak Bagus untuk mengatur nafasnya.

“Menyingkirlah!!” ucap Yuki yang menarik-narik lengan Riyu yang masih merasa lemas.

“Tunggu!! Sebenarnya apa yang membuatmu lari??” tanya Riyu dengan nafas yang masih terengah-engah dan capek berlari mengitari kampus yang lumayan besar ini. Ia juga sedikit heran, bagaimana gadis kecil ini kuat berlari mengitari kampus dengan kaki pendeknya itu. Tapi memang tidak terlalu heran kalau Riyu merasa capek, karena Riyu memang jarang sekali berolahraga.

“Jangan memutar balik fakta!! Kau pasti ada maksud tertentu, kan??” bentak Yuki yang sedikit kesal dengan Riyu.

“Pikiran apa itu?? Mungkin kau yang punya maksud tertentu di otak kecilmu ini,” Riyu menunjuk kepala Yuki dengan jari telunjuknya. Ia merasa lelah untuk berdebat dengan Yuki.

“Terus kenapa kau lari??” Yuki mulai melepaskan tangan Riyu yang tadinya Ia tarik-tarik supaya menyingkir dari depan pinti Pak Bagus.

“Aku hanya  tidak suka berjalan di belakangmu. Kau pikir aku bodyguard-mu??” ucap Riyu dengan cuek sambil menyeka keringat di keningnya.

“Pikiran bodoh apa itu?? Dasar otak kekanakan. Sudahlah ayo masuk!!” ajak Yuki yang setengah kesal mendengar alasan Riyu tadi. Yuki mendorong tubuh Riyu dengan asal supaya menyingkir dari depan pintu ruangan Pak Bagus.

TOK… TOK… TOK…

“Permisi, Pak,” ucap Yuki dengan sopan.

“Iya, mari silakan duduk,” sambut Pak Bagus dengan ramahnya. Pak Bagus memang dosen favorit karena keramahannya kepada para mahasiswanya dan juga ketegasannya. Ia juga tipe orang yang cukup sabar. Ada kalanya Pak Bagus menjadi dosen paling dicintai dan juga dosen yang paling ditakuti.

“Kami mau konsultasi tentang project komik digital, Pak,” Riyu langsung menuju topik pembicaraan. Ia juga mengeluarkan lembaran kertas yang tadi dibawanya. Diikuti dengan Yuki yang juga mengambil lembaran kertasnya yang ada di dalam tas. Ternyata tembaran yang dibawah Yuki adalah milik Riyu dan lembaran yang dibawa Riyu adalah milik Yuki.

“Kalian masih ingat apa yang saya bilang, kan?? KER-JA SA-MA,” eja Pak Bagus yang mengingatkan Yuki dan Riyu apa syarat supaya mereka berdua dapat nilai yang memuaskan. Pak Bagus juga menerima lembaran kertas yang diberikan Yuki dan Riyu. Dua ide cerita gabungan dan juga dua karakter gabungan.

Yuki dan Riyu tertunduk melihat Pak Bagus yang mengecek hasil kerja Yuki dan Riyu. Sesekali mereka berdua saling lirik dan saling mengadu mata selayaknya anak kecil yang sedang bertengkar tapi di bawah pengawasan orang tuanya.

“Ini masalahnya apa??” tanya Pak Bagus setelah melihat hasil kerja mereka berdua.

“Saya sudah bilang kepada Riyu kalau hasilnya itu lebih baik daripada punya saya. Tapi dia malah tidak mau, Pak,” celatuk Yuki secepat kilat agar Riyu tidak mendahuluinya lagi seperti tadi.

“Tapi itu menurut dia sendiri, Pak. Padahal dilihat dari manapun sudah kelihatan kalau karyanya lebih baik daripada punya saya. Benar kan Pak??” tanya Riyu kepada Pak Bagus tidak mau kalah dengan Yuki yang tadi mengadu kepada Pak Bagus.

Pak Bagus hanya diam saja mendengar penjelasan dari Yuki dan Riyu yang lebih tepatnya seperti sedang berdebat. Selayaknya anak kecil yang mengadu kepada orang tuanya. Pak Bagus kemudian menggulung lembaran kertas yang diberikan Yuki dan Riyu dan memukulkannya ke kepala Yuki dan Riyu dengan pelan sedikit kesal, “Kalian kira saya orang tua kalian?? Kenapa kalian seperti sedang mengadukan kesalahan lawan. Ingatlah, kalian itu kawan, bukanlah lawan. Sekarang begini saja. Yuki, apa menurutmu yang paling sulit dalam membuat komik digital ini??” tanya Pak Bagus dengan tegasnya.

“Membuat ide ceritanya Pak,” jawab Yuki dengan polosnya dan juga sedikit agak takut kepada Pak Bagus.

“Nah, Riyu, bagaimana denganmu??” tanya Pak bagus kepada Riyu.

“Menggambar karakter terlalu membingungkan, Pak,” jawab Riyu dengan sedikit gugupnya.

“Kalau kalian sudah tau kelemahan masing-masing, kenapa tidak kalian isi kelemahan kalian itu dengan kelebihan orang lain?? Tujuan saya menyuruh kalian kerja sama juga untuk menambal kelemahan individu dengan kelebihan berkelompok seperti ini. Apa kalian masih belum mengerti??” celoteh pak Bagus yang mungkin sedikit kesal dengan dua mahasiswa cerdasnya yang cukup menyebalkan dengan sifat individualismenya yang tinggi.

Yuki dan Riyu saling menatap dengan tatapan kosong tampak tidak terlalu paham dengan maksud Pak Bagus.

“intinya, kalian menurut saja untuk bekerja sama.  Riyu di bagian pembuatan ide cerita dan Yuki di bagian penggambaran. Tapi dikarenakan Riyu juga pandai menggambar, Riyu harus membantu Yuki menggambar, karena kelompok kalian yang minim anggota. Yuki juga kalau ada ide menarik jangan ragu untuk dibicarakan dengan Riyu,” Pak Bagus berceramah panjang lebar untuk Riyu dan Yuki, tapi mereka entah akan melaksanakan apa yang dibicarakan Pak Bagus atau tidak.

Yuki dan Riyu keluar dari ruangan Pak Bagus dengan tenang tidak seperti kemarin. Mereka saling menatap seakan berbicara ‘Apakah aku bisa mempercayaimu dan melakukan tugas ini bersama??’

¨¨¨

“Selanjutnya bagaimana??” tanya Riyu kepada Yuki. Mereka berdua sedang duduk santai di bawah pohon dengan pikiran yang sama-sama kosong.

“Kau dengar sendiri kata Pak Bagus tadi kan?? Kita pakai ceritamu,” ucap Yuki sambil meminum sekaleng soda yang ada di tangannya.

“Ingatlah kalau kita juga memakai karaktermu,” jawab Riyu yang sama-sama meneguk sekaleng soda yang tadi mereka beli di mesin penjual otomatis.

“Begini saja, kau buat ceritanya biar aku yang mendalami karakternya. Bagaimana??” ajak Yuki dengan pikiran yang sangat penuh dipenuhi tugas kelompok dan harus bekerja sama seperti apa yang dibilang Pak Bagus.

“Aku juga butuh karaktermu untuk membuat sebuah cerita,” jawab Riyu yang merasa putus asa. Secara tidak langsung, mereka berdua saling membutuhkan satu sama lain.

“Kalau seperti ini terus apa yang harus kita lakukan??” rengek yuki yang mulai putus asa dengan apa yang Ia alami saat ini. Ia juga merasa kesal. Kalau saja Ia mengerjakan tugas ini sendiri, ia tidak akan sangat bingung seperti sekarang.

Yuki melirik Riyu yang sedang menatap ke tanah dengan tatapan kosong tampak sedang berpikir, ‘Apa aku memang harus bekerja sama denganmu, yah??’ batin Yuki. Karena merasa diawasi, Riyu menoleh ke arah Yuki, tapi dengan kecepatan kilat Yuki memalingkan wajahnya seolah Ia tadi tidak memperhatikan Riyu,

“Sepertinya kita memang harus bekerja sama,”

 

Continue reading this series: