Posted on

BAB 3

This post is part of the series EASYGOING COUPLE

Other posts in this series:

  1. BAB 1
  2. BAB 2
  3. BAB 3 (Current)
  4. BAB 4
  5. BAB 5

“Dari sekian kelompok yang konsultasi dengan saya, saya paling suka dengan ide dan karakter yang kalian buat, tapi saya juga sangat kecewa dengan kalian berdua. Dengan otak kalian berdua, kalian bisa membuat cerita yang menarik, tapi kenapa kalian tidak kompak dan malah mengerjakan tugas ini sendiri-sendiri seperti ini?? Bahkan kalian berdua kekurangan anggota dengan sifat kalian yang sama-sama egois itu. Kalian harus bisa mengatasi hal ini sendiri, bukan tentang tugas, melainkan tentang kepribadian kalian berdua. Bapak tidak mau tau, kalian berdua harus kompak dan bekerja sama dalam mengerjakan tugas ini. Bapak percaya kalian berdua bisa. Kalian berdua bisa jika bekerja sama. Dengarkan omongan Bapak!!” celoteh sang dosen pembimbing dengan panjang lebar mengomeli Yuki dan Riyu saat mereka berdua hendak bimbingan dengan jadwal yang sudah tertera.

“Iya pak,” jawab Yuki dan juga Riyu secara bebarengan dengan kepala yang tertunduk.

“Jangan hanya iya saja. Tapi kerjakan!!” bentak Pak Bagus selaku dosen Yuki dan Yuri dalam mata kuliah ini.

“Iya pak. Kami mengerti,” jawab Yuki dan Riyu secara bebarengan lagi tanpa diaba-abai.

“Coba saja cara kalian bekerja sama sekompak mulut kalian tadi. Pasti akan lebih baik. Sudahlah kalian pikirkan saja baik-baik apa yang Bapak bilang tadi. Kalian sekarang boleh keluar,” usir Pak Bagus yang merasa kecewa dengan Yuri dan Riyu.

Saat sudah keluar, Yuki dan Riyu saling berhadapan dengan tatapan sinis yang tampak saling menyalahkan satu sama lain. Salah satu dari mereka sama sekali tidak ada yang mau mengalah.

“Ini semua karenamu,” ucap Yuki yang memulai perseteruan.

“Anak-anak lebih baik diam dan ikuti omongan Kakak. Jadi, jangan banyak bicara,” ucap Riyu sambil mengusap-usap kepala Yuki tampak mengejek.

PLAAKK…

“Lepaskan!!” bentak Yuki sambil menampar tangan Riyu yang tadinya ada di atas kepala Yuki.

“Owh…!! Adek kecil marah??” Riyu tampak senang mengejek Yuki yang tampak seperti anak kecil karena postur tubuh Yuki yang memang agak kecil.

“Aku bilang berhenti!!”

DUUAAKK…!! Yuki menendang tulang kering Riyu dengan cukup keras karena merasa kesalnya. Riyu langsung terdunduk merasakan tulang keringnya yang sakit berasa patah.

“Apa yang kalian lakukan diluar sana??!!” teriak sang Dosen Pembimbing dari dalam ruangan.

Mendengar suara Dosen Pembimbing yang menggelegar itu, membuat Yuki langsung pergi dari sana dengan kecepatan diatas rata-rata tanpa memperdulikan Riyu yang masih terduduk lemas disana.

‘Rasain tuh!! Lega rasanya!!’ Yuki tampak cukup senang setelah menendang kaki Riyu

¨¨¨

Yuki duduk di bangku yang ada di taman kampus sambil meminum susu coklat kesukaannya. Ia ingin mendinginkan kepalanya karena Riyu tadi. Ia cukup tersinggung dibilang adik kecil oleh Riyu. Tapi saat Ia sedang asyiknya mencoba menggambar-gambar secara iseng, ada seorang gadis yang menghampirinya.

“Yuri?? Boleh aku duduk disini??” ucap gadis itu. Yuki sama sekali tidak mengenal gadis yang menghampirinya dan juga mendekatinya itu.

“Silakan,” jawab Yuri dengan cueknya. Ia melanjutkan gambarannya yang sempat dihentikan gadis tidak dikenal itu. Tapi yang paling membuat Yuri merasa terganggu adalah, gadis itu terus menatap Yuri yang sedang menggambar.

“Wah…!! Gambarmu bagus juga ternyata. Pantas saja Pak Bagus memujimu dan juga Riyu,” celoteh gadis itu sambil merasa takjub melihat gambar Yuri yang semakin lama semakin jelas dan tampak indah.

‘Berhentilah menggangguku!!’ ucap Yuki dari dalam hati. Ia merasa terganggu dengan gadis itu.

“Owh iya. Aku dengar Pak Bagus juga memuji ide cerita kalian. Katanya kalian memiliki dua ide cerita dan tokoh yang berbeda. Kenapa bisa begitu?? Bolehkah aku melihatnya?? Aku ingin belajar darimu,” pinta gadis itu dengan tampang yang sedikit memelas.

Yuki kemudian mengeluarkan sebuah buku jilidan yang ada di tasnya untuk diberikan kepada gadis itu. Sang gadis langsung memasang ekspresi senang saat Yuki meladeni sang gadis dan mau memberikan ide cerita mereka kepadanya. Tapi kemudian,

“Apa yang kalian lakukan?!!” Riyu kemudian datang dan menghentikan gerakan Yuki yang hendak memberikan buku kepada gadis itu.

Yuki yang sedikit terkejut langsung menatap Riyu  yang ada di belakangnya, “Sedang apa kau??” tanya Yuki dengan santainya.

“Kenapa kau mau membeberkan ide cerita kita ke orang lain??!” bentak Riyu yang setengah emosi. Ia tidak terima jika cerita milik Yuki di beberkan begitu saja. Ia sangat menyukai cerita Yuki.

“Ehm… Maaf. Lebih baik aku pergi dulu,” ucap gadis itu yang kemudian meninggalkan Yuki dan juga Riyu di bangku itu. Gadis itu berusaha melarikan diri dari emosi Riyu.

”Kenapa kau mau membeberkan cerita kita??” tanya Riyu yang duduk di sebelah Yuki sambil menatapnya dengan tajam.

Yuki diam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Riyu, “Memangnya kenapa?? Kita tidak pernah sejalan. Lagipula itu juga ceritaku,” jawab Yuki dengan sangat santainya memasukkan buku yang tadi mau Ia berikan kepada gadis itu.

“Sebenarnya maumu itu apa??” Riyu kemudian tertunduk menahan emosinya. Ia merasa kalah dan rasanya ingin melindungi karya Yuki.

“Entahlah,” Yuki kemudian berdiri dan membawa tasnya dengan santainya hendak meninggalkan Riyu yang masih duduk di bangku itu. Tapi kemudian ada sesuatu yang menghentikan langkahnya. Lengannya terasa berat.

“Bagaimana kalau kita bekerja sama seperti yang dibilang Pak Bagus??” ajak Riyu yang menghentikan langkah Yuki dengan sangat gengsi. Riyu bahkan memalingkan wajahnya ke arah lain tidak mau menatap Yuki.

“Apa kau yakin mengajakku bekerja sama??” Yuki merasa menang saat itu juga bisa bekerja sama dengan Riyu yang bakatnya diakui sendiri olehnya.

“Kalau kau tidak mau lupakan saja,” Riyu kemudian melepaskan genggamannya dan melipat kedua tangannya diatas meja sambil memandang lurus kedepan.

Yuki kemudian mengurungkan niatannya untuk pergi dan kembali duduk di samping Riyu, “Apa yang sudah kau katakan tidak bisa ditarik lagi. Ingat itu!!” ucap Yuki yang kemudian merogoh tasnya mencari sesuatu. Yuki mengeluarkan buku yang tadinya mau Ia berikan kepada gadis tadi, “Bukalah!!” perintah Yuki.

Riyu yang awalnya diam saja kemudian melirik buku yang tadi mau diberikan kepada gadis tadi. Riyu mengambil buku itu dan membukanya, “Buku apa ini??” Riyu terkejut sekaligus bingung saat melihat buku apa itu.

“Itu buku catatanku saat aku membuat komik. Dari situlah aku belajar. Aku mau meminjamkannya kepada gadis itu supaya dia belajar aja. Aku juga tidak akan sebodoh itu memberikan bahan-bahan kita untuk kelompok lain. Tapi kau kan sudah bilang kalau kita akan bekerja  sama dalam komik ini,” Yuki tersenyum licik seolah-olah Ia menang.

“Sial. Awas saja kalau kau sampai menyusahkanku dan bikin onar,” ancam Riyu yang tertunduk gengsi merasa kalah dengan seorang gadis kecil menyebalkan ini. Sebenarnya Riyu juga mengakui keahlian dan bakat Yuki, tapi Ia terlalu gengsi untuk mengakuinya secara langsung.

Continue reading this series: