Posted on

BAB 2

This post is part of the series EASYGOING COUPLE

Other posts in this series:

  1. SINOPSIS
  2. BAB 1
  3. BAB 2 (Current)
  4. BAB 3
  5. BAB 4

Malam ini Yuki duduk di depan meja belajarnya sambil memperhatikan gambar dan juga jalan cerita yang di buat pria itu. Semakin Ia melihat karya pria itu, semakin penasaran Yuki dibuatnya. Yuki mengambil buku yang ada di laci mejanya dan kemudian Ia menulis bagaimana kegiatannya hari ini. Yuki lebih suka terbuka dengan buku diary-nya daripada kepada orang lain yang ada disekitarnya. Entah sudah berapa buku yang sudah Yuki tulis selama beberapa tahun ini mengenai kegiatan kesehariannya. Hari ini Ia juga menuliskan bagaimana Ia tertarik kepada seorang pria yang memiliki bakat seperti dirinya atau bahkan bisa lebih dan kenapa juga tidak ada anak di kelasnya yang ingin mengajaknya berkelompok. Yang saat ini ada di pikiran Yuki adalah mengobrol dengan pria itu dan membuat agar project komik ini berjalan lancar dan juga sukses, tapi kemudian ada sesuatu hal yang terlintas di benak Yuki, yaitu perasaan gengsi untuk bertanya yang ada di hati Yuki.

¨¨¨

Seperti biasanya Yuki datang ke kampus selayaknya mahasiswi yang sangat teladan. Ia datang 15 menit atau bahkan lebih sebelum pelajaran di mulai. Yuki selalu duduk di deretan bangku paling depan seperti biasa. Ia mengeluarkan kertas-kertas dari map yang berisikan karakter tokoh dan juga ide cerita yang diberikan pria itu kemarin. Sekalipun Yuki tidak pernah bosan melihat hal itu. Dan ada sesuatu hal yang Yuki lupakan, yaitu siapa nama pria itu??

BRAAAKK…. Map berisikan kertas tiba-tiba mendarat di hadapan Yuki dengan kasarnya. Mau tidak mau Yuki langsung saja melihat ke arah datangnya map itu. Ternyata….

“Kita pakai ceritamu,” ucap pria itu dengan santainya menatap Yuki menggunakan kedua matanya yang tampak seperti elang dengan tangan yang Ia masukkan ke dalam saku celananya.

“Tidak. Ceritamu lebih bagus,” ucap Yuki yang kemudian berdiri dihadapan pria itu dengan jarak yang lumayan dekat. Tapi dalam situasi saat ini, Yuki baru menyadari suatu hal kalau pria itu sangat tinggi. Yuki harus mendongak hanya untuk berbicara dengan pria itu.

“Jalan ceritamu lebih jelas,” ucap pria itu sekali lagi.

“Ide ceritamu lebih menarik,” ucap Yuki tidak mau kalah.

“Tokohmu lebih bagus,”

“Karaktermu lebih keren,”

“Persiapanmu lebih matang,”

“Ceritamu bikin penasaran,”

“Aku suka ceritamu,”

“Aku lebih suka ceritamu,”

“Terus kau maunya apa?!” pria itu sedikit emosi berdebat dengan Yuki.

“Maumu yang bagaimana?” Yuki tidak mau kalah untuk berdebat dengan pria itu.

“Arg… Terserah…!!” pria itu kemudian meninggalkan Yuki dan duduk dibangkunya sambil menenggelamkan kepalanya diatas meja.

‘Apa-apaan pria itu?? Apa dia tidak tau tentang bakatnya?? Bodoh sekali,’ ucap Yuki dalam hati sambil membereskan kertas-kertas yang ada di bangkunya. Dalam hati Yuki memang mengomel, tapi kenyataannya Ia hanya menatap apapun yang ada di depannya dengan tatapan yang sinis.

¨¨¨

Selesai kuliah, Yuki tidak langsung kembali ke kosnya, melainkan Ia pergi ke perpustakaan untuk mencari bahan projectnya. Ia bingung dengan project ini, disisi lain Ia sangat tertarik dengan ide cerita teman sekelompoknya itu, tapi disisi lain teman sekelompoknya juga suka dengan ide cerita milik Yuki. Jadi, Yuki ingin menggabungkan kedua ide cerita itu, tapi bagaimana caranya??

Di perpustakaan Yuki mencari buku sebanyak-banyaknya, Ia tidak mau kehilangan buku yang menurutnya penting untuk projectnya ini. Ia membawa buku-buku yang lumayan banyak di tangan kecilnya menuju ke meja baca. Tapi saat Ia meletakkan buku-buku itu, ternyata ada seorang pria yang juga menaruh buku di meja yang hendak ditempati Yuki. Yuki melirik pria itu dengan tatapan tajam dan ternyata…

“Kau???” ucap Yuki yang cukup terkejut melihat pria itu, ternyata dia adalah teman sekelompoknya yang membuatnya kesal tadi.

“Ck… Kenapa kau lagi??” ucap pria itu yang kemudian duduk di samping Yuki. Awalnya ada yang menduduki bangku di samping Yuki, tapi orang itu pergi saat Yuki menatap pria itu dengan sangat tajam, mungkin orang yang awalnya duduk disana takut melihat tatapan Yuki dan pria itu yang tampak menyeramkan.

“Kau kira aku suka bertemu denganmu??” celatuk Yuki dengan suara pelan yang duduk sambil membuka lembar demi lembar buku yang Ia ambil tadi. Yuki tidak memperdulikan apa yang dilakukan pria itu di sampingnya.

Saat sedang asyik membaca buku, Yuki kemudian mengeluarkan earphonennya untuk mendengarkan music, tapi disaat yang sama ternyata pria itu juga memasang headphone yang tadinya melingkar dilehernya. Sekilas mereka berdua saling pandang, hanya selang beberapa detik mereka kembali menyibukkan diri dengan buku-buku mereka. Setelah hampir 1 jam lebih mereka membaca dan mengamati buku, kemudian Yuki mengeluarkan kacamatanya dari kotak kacamata dan memakainya. Bersamaan dengan Yuki, pria itu juga memasang kacamata yang tadi berada di saku kemejanya.

‘Apa-apaan sih dia?? Kenapa dari tadi Ia melakukan hal yang sama denganku bersamaan?? Apa dia mengikutiku??’ pikir Yuki yang melirik pria itu.

“Namaku Riyu,” ucap pria itu tanpa melepas pandangan dari bukunya.

“Aku Yuki,” jawab Yuki juga tanpa memperdulikan pria itu yang bernama Riyu, tapi kemudian Ia berpikir, ‘Namanya berbau jepang juga.’

Tiba-tiba Riyu menoleh ke arah Yuki sehingga Yukipun menoleh ke arah Riyu juga. Mereka saling berhadapan dan menatap satu sama lain dalam hitungan detik.

“Kau ternyata cukup berbakat dengan wajah dan penampilan anak SD seperti ini, yah?? Aku suka ide cerita dan karaktermu. Bagaimana bisa anak-anak di kelas tidak mau satu kelompok denganmu??” tanya Riyu dengan wajah datar dan juga menyebalkan menatap Yuki yang membalas tatapan Riyu dengan tatapan yang cukup sinis.

“Bercerminlah!!!” balas Yuki yang kemudian kembali menghadap ke arah buku yang menurutnya jauh lebih menarik daripada Riyu.

“Asal kau tau saja, aku tidak suka pekerjaan yang setengah-setengah. Aku lebih suka menutup diri dan bekerja sendiri daripada harus berkelompok dengan seseorang yang malah jadi penghambat. Dan mungkin kau juga termasuk penghambat bagiku,” celoteh Riyu dengan sinisnya berbicara seperti itu kepada Yuki.

“Asal kau tau juga yah, aku itu tidak peduli dengan apa yang kau katakan. Dan satu hal lagi, kau itu juga seperti penghambat bagiku,” dengan senyum sinisnya Yuki membawa buku yang tadi Ia bawa dan pergi meninggalkan Riyu yang nampaknya sedikit kesal dengan Yuki.

Continue reading this series: