Posted on

BAB 18

This post is part of the series EASYGOING COUPLE

Other posts in this series:

  1. BAB 16
  2. BAB 17
  3. BAB 18 (Current)

Pagi ini Yuki bangun dengan perut yang terasa sangat tidak enak. Jelas saja, semalam Ia habis makan makanan mentah ala Jepang. Mama Riyu entah habis mimpi apa ingin mengajak Riyu dan Yuki ke restoran Jepang temannya yang menyajikan makanan-makanan mentah. Bahkan ada juga gurita yang masih hidup dan menggeliat. Yuki tidak bisa membayangkan semalam tentakel gurita itu menggeliat di tenggorokannya. Yuki juga tidak bisa menolak makanan itu karena makanan itu pemberian dari mama Riyu untuknya.

“Arg… Bagaimana bisa mereka makan makanan seperti itu tanpa mual?? Padahal kan lebih enak kalau dimasak dulu. Tapi kenapa restoran itu sangat ramai pengunjung??” celoteh Yuki di dalam kamar. Ia masih terasa mual karena ikan-ikan mentah itu. Memang benar ikan-ikan itu sudah tidak terlalu amis. Tapi tetap saja mereka mentah.

Tok… Tok… Tok…

“Yuki, kau ada tamu. Cepat keluar!! Pacarmu sudah menunggu,” teriak teman kosnya yang mengetuk kamar Yuki dengan cukup kerasnya.

‘Pacar?? Siapa??’ batin Yuki saat mendengar teman kosnya mengatakan pacar.

“YUKIIII…!!!! KAU BELUM BANGUN YAH??” teriak teman kos Yuki yang semakin menjadi dan mengetuk pintu Yuki semakin menggila.

“IYAAA…!!! BERISIK…!!!” jawab Yuki yang menjawab sambil berteriak juga karena kesal dan bangkit dari tidurnya menuju pintu. Kemudian Yuki membuka pintu kamarnya, “Siapa sih pacarku?? Aku nggak punya pacar,” jawab Yuki yang mengomel-ngomel ke teman kosnya.

“Aku juga tidak tau. Tadi dia bilang kalau dia pacarmu kok. Tapi dia sangat tampan. Badannya juga tinggi. Kalau bukan pacarmu, kau bisa memberikannya kepadaku,” ucap gadis itu dengan senangnya. Teman kos Yuki yang satu ini memang sedikit genit. Apalagi setelah melihat pria tampan. Dan yang menjadi pikiran Yuki saat ini adalah teman cowoknya hanyalah Riyu. Tapi tidak mungkin Riyu bicara seperti itu.

Yuki kemudian pergi tanpa memperdulikan teman kosnya. Ia ingin segera menemui pria yang mengaku pacarnya dan yang ada di pikiran Yuki adalah Riyu. Saat mau membuka pintu, Yuki melihat pria yang memunggunginya tapi Yuki tau siapa dia, “Miko??” ternyata pria yang mengaku pacarnya adalah Miko.

“Hay… Kau belum makan kan?? Aku bawa makanan buatmu,” ucap Miko dengan ramahnya menyapa Yuki di pagi hari. Apalagi penampilan Yuki saat ini memakai kaos keberasan dengan celana pendek selutut.

“Ah… Terima kasih, Miko,” jawab Yuki yang menerima kantong plastik berisi makanan dari Miko.

“Boleh aku masuk??” tanya Miko yang dari tadi hanya berdiri menunggu Yuki mempersilakannya masuk dan duduk di ruang tamu yang ada di kos Yuki. Apalagi di luar juga panas karena terik matahari.

“Ah… Iya maaf. Ayo masuk!!” ajak Yuki yang mempersilahkan Miko masuk ke ruang tamu kosnya.

“Yuki…” panggil seseorang yang suaranya tidak asing di telinga Yuki. Suara yang sangat menyebalkan tapi membuat hatinya berdegub dengan kencangnya. Benar. Dia adalah Riyu yang berjalan dengan santainya menuju kos Yuki.

“Riyu?? Sedang apa kau??” tanya Yuki yang terkejut melihat Riyu menghampiri Yuki di kosnya. Selama ini Riyu memang jarang ke kos Yuki. Hanya beberapa kali saja Riyu ke kos Yuki untuk mengerjakan tugas karena di kos Yuki terlalu banyak orang yang mondar-mandir sehingga merusak konsentrasi mereka.

“Dia yang sedang apa disini??” tanya Riyu yang melihat Miko ada di belakang Yuki dan juga sudah masuk ke dalam kos Yuki.

“Dia kesini membawakanku makanan,” jawab Yuki sambil menunjukkan kantong plastik berisi makanan yang Ia bawa. Miko merasa bangga dengan apa yang Ia lakukan untuk Yuki.

“Jangan makan itu!!” ucap Riyu sambil menerobos masuk ke kos Yuki dan duduk di sofa ruang tamu yang ada di kos Yuki. Yuki dan Miko hanya berdiri di pintu masuk sambil menatap Riyu dengan lekat.

“Memangnya kenapa aku tidak boleh makan makanan darinya??” Yuki kemudian datang menghampiri Riyu dan duduk di sofa yang sama dengan Riyu.

“Aku sudah membawakanmu makanan. Lagipula makanan yang aku bawa lebih sehat karena aku memasaknya sendiri. Daripada masakan hasil beli. Aku tau kalau perutmu tidak enak karena makanan semalam. Aku minta maaf,” Riyu mengeluarkan kotak makanan yang ada di tasnya dan Ia taruh di meja. Ternyata tidak hanya 1 kotak makanan saja, melainkan ada 3 kotak makanan berisi nasi dan lauk-lauk yang berbeda dan tampak enak.

“Tapi Miko sudah membawakanku makanan,” Yuki tampak sedikit tidak enak dengan Miko yang pagi-pagi sudah mengiriminya makanan.

“Berikan padaku!!” Riyu kemudian mengambil kantong plastik berisi makanan yang diberikan Miko tadi dan Riyu melihat sekeliling tampak sedang mencari sesuatu, “Ah.. Mbak, ini ada makanan. Kau makan saja,” ucap Riyu yang memanggil salah satu penghuni kos dan memberikan makanan pemberian Miko kepadanya.

“Apa yang kau lakukan?? Akku membelikannya buat Yuki,” Miko tampak kesal dengan perbuatan Riyu yang seenaknya sendiri memberikan makanan yang Ia beli ke sembarang orang.

“Makanan itu bukannya sudah kau berikan kepada Yuki?? Jadi terserah kan mau diapakan?? Lagipula kenapa kau pagi-pagi sudah ada disini??” celoteh Riyu yang semakin geram melihat tingkah Miko yang sok dekat dengan Yuki.

“Tapi kau tidak berhak untuk memberikannya ke sembarang orang. Lagi pula suka-suka aku kenapa ada disini. Aku tidak perlu ijinmu untuk menemui Yuki,” Miko mulai terbawa emosi. Ia sangat tidak suka dengan sikap Riyu kepadanya.

“Kalian bisa berhenti apa tidak?? Perutku sangat tidak enak. Lebih baik kalian pulang dan Riyu, kau bawa kembali saja makananmu ini. Aku tidak mood makan,” akhirnya Yuki mulai bersuara. Ia tidak tahan mendengar celoteh Riyu dan Miko yang berdebat hanya karena makanan. Hal itu membuat perut Yuki semakin mual-mual tidak karuan.

“Baiklah. Lebih baik kau istirahat, Yuki. Maaf karena sudah membuatmu semakin sakit. Kalau begitu aku pulang dulu,” ucap Miko dengan nada lembutnya Miko pergi keluar dari kos Yuki. Yuki jadi sedikit tidak enak dengan Miko, tapi perutnya saat ini sungguh sangat mual.

“Syukurlah kalau kau sadar. Pulang sana!!” usir Riyu dengan tidak sopannya.

“Kau juga pulang dan bawa semua makanan ini!!” usir Yuki kepada Riyu yang masih asyik duduk di sofa.

“Kenapa aku juga?? Lagipula aku membawakan makanan ini untuk…”

“Aku bilang pergi!!” potong Yuki yang tidak tahan mendengar celoteh Riyu.

“Baiklah aku akan pergi. Tapi kau harus janji kau akan menghabiskan semua makanan yang aku bawa. Jangan pernah memberikannya kepada orang lain atau kau akan menyesal nantinya,” ancam Riyu yang kemudian berdiri dari duduknya dan berjalan menuju pintu keluar, “Cepat sembuh,” tambah Riyu tanpa menoleh ke belakang.

            “Terima kasih, Riyu,” ucap Yuki dari dalam hati.

316 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini