Posted on

BAB 15

This post is part of the series EASYGOING COUPLE

Other posts in this series:

  1. BAB 13
  2. BAB 14
  3. BAB 15 (Current)
  4. BAB 16
  5. BAB 17

Siang hari di taman kampus, Yuki sedang membaca komik sebagai hiburan dan juga untuk pembelajaran membuat komik. Yuki sendirian di taman, Riyu sedang ada urusan sebentar dengan dosen. Saat sedang sendirian, tiba-tiba datang seorang pria dengan 2 kotak susu coklat di kedua tangannya.

“Hay, Yuki. Boleh aku duduk disini??” tanya pria itu yang berdiri tepat di depan Yuki. Mata pria itu tampak penuh harap sambil menatap mata Yuki.

Yuki hanya menganggukkan kepalanya sambil melirik pria itu. Sudah lama sejak terakhir kali ada pria yang mendekatinya. Para pria jarang mendekati Yuki karena sifat Yuki yang sangat dingin dan juga cuek. Tapi entah kenapa sekarang ada pria yang mendekatinya.

“Ehm… Kamu sedang apa, Yuki??” tanya pria itu yang mencoba berbasa-basi dengan Yuki, “Akh.. Ini aku ada susu coklat buatmu. Minumlah!” ucap pria itu dengan sangat ramahnya.

“Terima kasih,” Yuki mengambil susu coklat itu, “Kau bisa lihat sendiri aku sedang apa,” jawab Yuki sambil menunjukkan buku komik yang tadi Ia baca kepada pria itu.

“Kau suka komik, yah??” tanya pria itu masih dengan ramahnya. Senyumnya yang lembut dan tulus membuat Yuki sedikit tidak tega untuk bersikap terlalu dingin padanya.

“Lumayan. Sebagai pembelajaran saja,” jawab Yuki yang menaruh komiknya dan meminum susu coklat yang diberikan pria itu tadi.

“Enak yah anak design belajarnya dari komik,” ucap pria itu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Akh… Iya aku lupa. Namaku Miko, aku jurusan Pendidikan Kimia,” kata pria bernama Miko itu memperkenalkan dirinya kenapa Yuki.

“Bagaimana bisa anak jurusan kimia mengenalku yang jurusan design??” tanya Yuki yang merasa penasaran bagaimana bisa Miko tau namanya. Apa mungkin Yuki seterkenal itu.

“Akh… Maaf. Sebenarnya dulu kita pernah bersama saat di kantin. Saat kau sedang makan, aku pernah duduk di sampingmu. Banyak pria yang memperhatikanmu dari jauh, tapi kau sama sekali tidak menghiraukan mereka. Sejak itu aku penasaran denganmu. Tapi akhir-akhir ini aku sering melihatmu dengan pria lain,” jelas Miko dengan ekspresi setengah kecewa.

“Benarkah?? Maaf aku tidak tau. Pria yang kau maksud mungkin Riyu,” jawab Yuki dengan entengnya. Sepertinya Miko menyukai Yuki. Dilihat dari bagaimana Miko menatap Yuki dan bagaimana Miko memperhatikan Yuki.

“Tidak apa kok. Tapi kalau boleh tau Riyu itu siapa??” tanya Miko dengan sedikit malu dan juga ragu menanyakan hal itu kepada Yuki. Apalagi ini pertama kalinya Ia berbicara dengan Yuki.

“Kita satu kelompok project buat komik digital,” jawab Yuki yang menjelaskan hubungannya dengan Riyu.

“Owh… Syukurlah kalau begitu. Aku kira dia pacarmu,” jawab Miko yang tersenyum sangat lega saat mengetahui kalau hubungan Yuki dan Riyu hanya sekedar teman satu kelompok.

“Bukan kok. Memangnya kenapa??” tanya Yuki yang merasa aneh melihat Miko tampak senang saat Yuki menjelaskan bahwa dirinya dan Riyu hanya sekedar teman kelompok.

“Aku hanya takut saja kalau ternyata kau dan Riyu jadian,” jawab Miko dengan jujurnya. Kepala Miko tertunduk karena menahan malu. Secara tidak langsung Miko seperti mengakui kalau dirinya menyukai Yuki dan tidak rela kalau Yuki dengan orang lain.

“Memangnya kenapa??” tanya Yuki sekali lagi.

“Karena aku menyukaimu,” jawab Miko yang langsung to the point dengan Yuki.

“Kita kan baru kenal. Bagaimana kau bisa langsung menyukaiku??” Yuki masih penasaran dengan Miko. Tampaknya Miko cukup cerdas, tapi kenapa Ia bisa semudah itu menyukai Yuki.

“Aku memperhatikanmu sudah sejak lama. Aku tidak mungkin asal menyukai seseorang. Aku juga akan menunggumu sampai kau menyukaiku,” ucap Miko dengan sepenuh hati. Miko tampak sangat tulus menyukai Yuki.

“Owh… Terima kasih,” jawab Yuki yang tampak sedikit bingung harus menjawab apa. Tapi menurut Yuki, ucapan terima kasih lebih baik daripada kata maaf.

“Bersikaplah biasa padaku. Bisa bicara denganmu saja aku sudah sangat senang,” Miko jadi semakin salah tingkah dan tidak berani menatap mata Yuki yang kini menatapnya dengan lekat, “Akh.. Anu… Boleh aku minta nomor kamu?? Mungkin kita bisa bertukar nomor??” pinta Miko yang mencoba memberanikan diri meminta nomor Yuki.

“Boleh saja. Ini..” Yuki kemudian memberikan ponselnya kepada Miko supaya Ia bisa mengambil nomornya dan mungkin menyimpan sendiri nomornya di hp Yuki.

“Terima kasih. Ngomong-ngomong kau buat komik apa??” tanya Miko mencoba untuk berbasa-basi. Miko ingin terus mengobrol dengan Yuki sang pujaan hati.

“Kau bukan orang yang mau memata-matai kelompokku kan??” tanya Yuki yang sedikit curiga setiap ada orang yang menanyai tentang project komiknya. Karena memang banyak yang iri dengan kelompok Yuki.

“Haha… Tenang saja. Aku bukan mata-mata kok. Aku Cuma berbasa basi saja. Kalau ada yang tentang ilmiah-ilmiah gitu tanya saja padaku. Kau bisa memanfaatkanku sesukamu. Tapi kenapa kau mengira kalau aku ini mata-mata?? Apa ceritamu tentang mata-mata??” tanya Miko yang merasa penasaran Miko juga dengan rendah hati dan sama sekali tidak keberatan kalau sedang dimanfaatkan malah Ia sendiri yang menawarkan diri untuk dimanfaatkan.

“Maaf kalau begitu. Karena banyak yang iri dengan kelompokku. Padahal pada awalnya aku dan Riyu seperti dibuang seperti tidak ada yang mau 1 kelompok dengan kami. Tapi sekarang mereka memohon-mohon minta diajarin atau ingin melihat projectku,” jelas Yuki yang menceritakan semuanya kepada Miko.

“Wah… Projectmu pasti sangat bagus sampai dibuat rebutan seperti itu. Asal bukan kau yang jadi rebutan,” goda Miko sambil tertawa mencoba menghilangkan rasa canggung diantara mereka.

“Entahlah. Aku tidak paham dengan jalan pikiran mereka,” jawab Yuki sambil bertopang dagu dan sedikit membayangkan jalan pikiran anak-anak di kelasnya.

“Tapi sepertinya kau sering dibicarakan akhir-akhir ini. Bahkan sampai jurusanku saja tau kabar-kabar tentangmu,” ucap Miko dengan nada sedikit kecewa karena takut Yuki jadi pusat perhatian.

“Benarkah?? Sampai segitunya kah??” Yuki tampak terheran-heran dan sedikit tidak percaya bahwa dirinya jadi bahan pembicaraan anak-anak di kelasnya sampai ke jurusan lain.

“Iya. Aku sampai khawatir kau disukai cowok lain,” ucap Miko dengan kedua tangannya bertopang dagu sambil menatap Yuki dengan sangat tulus.

“Yuki, siapa dia??” tiba-tiba terdengar suara dari samping kanan Yuki. Suara yang sangat tidak asing bagi telinga Yuki. Benar. Dia adalah Riyu yang datang menghampiri Yuki.

178 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Continue reading this series: