Posted on

BAB 11

This post is part of the series EASYGOING COUPLE

Other posts in this series:

  1. BAB 9
  2. BAB 10
  3. BAB 11 (Current)
  4. BAB 12
  5. BAB 13

‘Dimana ini??’ Yuki baru saja membuka matanya di pagi hari. Ia merasa asing di tempat Ia bangun. Ini bukan kamar rumahnya maupun kamar kosnya. Kemudian Ia mengingat-ingat dan baru sadar kalau semalam Ia tertidur di rumah Riyu. Seingatnya, Yuki tertidur bersandar pada sofa, tapi kenapa sekarang Yuki berada di tempat tidur dengan selimut??

BRAAK…

“Aku kira kau pingsan. Mama sudah menunggumu untuk sarapan. Cepat cuci muka dan turun!!” perintah Riyu yang datang dengan mengejutkan karena caranya membuka pintu seperti seseorang yang menantang untuk berkelahi.

“Biasa saja, Pak. Nggak usah pakek otot,” celoteh Yuki yang turun dari tempat tidur dan melipat selimut yang tadi Ia pakai. Kemudian Ia teringat sesuatu, “Owh iya… Kenapa aku tidur disini?? Seingatku, aku tidur diluar. Apa kau yang membawaku??” tanya Yuki dengan polosnya.

“Apa?? Kau pikir siapa lagi?? Tentu saja aku. Asal kau tau, badanmu itu sangat berat. Kau taruh dimana beban itu?? Padahal tubuhmu kecil,” ucap Riyu yang sedikit gelagapan karena sedikit malu semalam Ia menggendong Yuki ke kamar yang ada di sebelah kamarnya. Sejujurnya Yuki tidak terlalu berat, Yuki tampak cukup ringan saat digendong. Hanya saja Riyu cukup gengsi untuk mengakui itu semua.

“Ha—Ha— Itu karena Kau lemah,” jawab Yuki yang sedikit kesal dirinya yang cukup kecil itu dibilang berat. Untuk kedua kalinya Yuki melewati Riyu sambil menabrakkan punggungnya seperti menantang, tapi kali ini Yuki menambahkan sebuah injakan yang cukup menyakitkan di kaki Riyu.

“Argh… Gila, yah??” omel Riyu dengan geramnya melihat Yuki yang santai saja memasuki kamar mandi. Tapi saat Yuki memasuki kamar mandi, Riyu tampat tersenyum dengan lembut sambil mengingat-ingat tingkah Yuki yang menurutnya sedikit lucu dan menggemaskan. Nampaknya Riyu benar-benar mulai menyukai Yuki.

¨¨¨

”Riyu, bajuku ada di mana?? Seingatku semalam ada di sini,” teriak Yuki dari dalam kamar mandi. Setelah makan dan melanjutkan tugasnya sebentar, Yuki memutuskan untuk mandi. Ia geram karena terus diejek Riyu karena belum mandi. Mentang-mentang Riyu sudah mandi sejak pagi tadi, dia tidak hentinya mengejek Yuki.

“Bajumu tadi dicuci sama Mama,” teriak Riyu dengan santainya sambil membaca-membaca buku di sofa.

“Terus aku pakai baju apa??”Teriak Yuki yang mulai bingung.

“Arg… Merepotkan saja. Tunggu sebentar aku ambilkan baju,” Riyu kemudian menaruh bukunya dan berjalan menuju kamarnya untuk mengambilkan Yuki baju. Riyu bingung harus memberikan Yuki baju apa. Kemudian Riyu mengambil sweeter berwarna abu-abu kesukaannya. Ia berpikir kalau Yuki pasti kelihatan lucu saat memakai sweeter ini apalagi Ia memakai tudungnya juga, “Yuki, ini…”

Kriiieett….

Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Riyu cukup terkejut saat Ia melihat pintu kamar mandi itu terbuka. Yang ada di pikirannya adalah Yuki keluar hanya mengenakan handuk saja.

“Lama banget, sih,” ucap Yuki saat keluar dengan memakai kaos yang tadi Ia pakai dan mengusap-usap rambutnya yang masih basah karena keramas.

Harapan Riyu musnah sudah. Bukannya Riyu berpikiran kotor, tapi Ia hanya berpikir kalau seandainya Yuki keluar hanya menggunakan handuk saja, “Jangan banyak komentar!! Pakai ini saja,” ucap Riyu sambil melemparkan sweeternya kepada Yuki.

“Kenapa sih bajumu kalau tidak warna biru, pasti warna gelap. Kehidupanmu suram, yah??” celoteh Yuki yang menyukai warna-warna cerah. Karena sejak semalam baju yang dipinjamkan kepadanya dan juga baju yang biasa Riyu pakai adalah berwarna gelap kalaupun ada yang berwarna cerah pasti biru.

“Kalau tidak mau, sini. Nggak usah pinjam!! Balikin!!!” omel Riyu yang geram mendengar celoteh Yuki yang mulai menyebalkan.

“Iya iya. Dasar pelit!!” Yuki langsung masuk ke kamar yang semalam Ia tiduri dan mengunci pintu dari dalam. Yuki bersandar pada pintu sebentar dan memandangi sweeter Riyu yang ada di tangannya sambil tersenyum, ‘Entah kenapa aku suka wangi bajunya. Seperti ada aroma Riyu di baju ini. Hah..!! Aku pasti sudah mulai gila,’ celoteh Yuki dalam hati. Ia sekarang benar-benar menyukai Riyu. Tapi Ia terlalu gengsi untuk memperlihatkan ketertarikannya kepada Riyu.

Yuki berganti baju memakai sweeter yang diberikan Riyu dan kemudian Ia keluar dari kamar dengan santainya tidak seperti semalam yang merasa malu-malu.

‘Manisnya…’ ucap Riyu dalam hati saat melihat Yuki keluar dari kamar dengan rambut yang sedikit masih basah.

“Kenapa kau memberiku sweeter?? Kenapa tidak kaos saja seperti semalam??” tanya Yuki dengan entengnya.

“Aku mencarikanmu baju yang sekiranya tidak terlalu besar buatmu. Kau mau memakai baju yang sangat besar??” omel Riyu saat Yuki berkomentar tentang baju seolah-olah Ia memilih-milih baju. Riyu juga takut kalau Yuki tau niatnya yang sebenarnya adalah ingin melihat Yuki memakai pakaian yang membuatnya tampak imut.

Yuki kemudian memasang tudung sweeternya dan mengangkat tangannya di depan wajahnya memperlihatkan lengan sweeter yang kebesaran, “Ini maksudmu tidak terlalu besar??” tanya Yuki dengan ekspresi polos yang membuatnya benar-benar menggemaskan.

‘Sial!! Dia benar-benar menggemaskan,’ Riyu harus bisa menahan ekspresinya. Jangan sampai Yuki tau kalau Riyu ternyata menyukainya, “Sudah jangan banyak komentar. Kemarilah!!” suruh Riyu tanpa melihat ke arah Yuki.

“Apa??” tanya Yuki yang membungkukkan badannya tepat disamping Riyu. Yuki tidak sadar kalau posisinya saat ini sangat dekat dengan Riyu.

“Coba lihat ini!! Di komik ini pembuatan background dibuat dengan sangat bagus. Komik ini tiap panelnya seperti menunjukkan suatu adegan di film. Bagaimana kalau kita membuat background seperti ini?? Biar aku yang mengerjakan bagian background. Kau cukup membuat tokoh saja. Aku hanya bertanya bagaimana pendapatmu??” tanya Riyu yang menjelaskan panjang lebar dan kemudian Ia menghadap ke arah Yuki yang jarak wajahnya hanya sekitar beberapa senti saja darinya. Riyu menatap bulu mata Yuki yang lentik, bola matanya berwarna coklat dengan tatapan yang fokus ke komik yang tadi ditunjukkan oleh Riyu.

“Menurutku juga bagus. Kalau kau menyanggupinya aku tidak masalah. Aku juga akan membantu nantinya,” jawab Yuki dengan santainya kemudian mendongak menatap Riyu yang ternyata juga menatapnya. Mereka saling menatap dalam beberapa detik. Detak jantuk mereka saling bertautan. Entah suara detak jantung mereka terdengar atau tidak, tapi mereka berdua memang saling menyukai.

387 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

Continue reading this series: