Posted on

BAB 1

This post is part of the series EASYGOING COUPLE

Other posts in this series:

  1. SINOPSIS
  2. BAB 1 (Current)
  3. BAB 2
  4. BAB 3

Hari ini merupakan hari yang sama seperti hari-hari lainnya bagi seorang gadis bernama Yuki Anastasya atau yang biasa dipanggil Yuki ini. Jelas saja, Ia tidak pernah peduli dengan apa yang ada di sekitarnya. Bahkan nama teman sekelasnya saja Ia tidak tau sama sekali. Setiap ada anak yang hendak menyapa atau mengajaknya bicara, Yuki hanya akan merespon seadanya saja dan bahkan Ia cukup cuek untuk menanggapi pertanyaan dan juga ucapan anak-anak yang lain. Ia juga tinggal di sebuah kosan yang tidak terlalu besar letaknya cukup dekat dari kampusnya. Jadi Ia memiliki waktu lebih banyak untuk menyendiri di kos dan juga bebas untuk melakukan apapun yang Ia suka di dalam kamarnya. Dan sekarang Ia mendapat sedikit masalah kecil, yaitu di kelasnya anak-anak mendapat suatu tugas yang mengharuskannya mereka untuk membuat kelompok yang satu kelompoknya minimal berisikan 2 orang hingga 5 orang.

“Ayo teman-teman cepat bentuk kelompok!!” ucap sang ketua kelas sambil memimpin anggota kelasnya dengan sangat bijak, “Yang masih belum dapat teman sekelompok siapa?? Ayo cepat angkat tangan,” tambah sang ketua kelas dengan tegasnya.

“Aku,” Yuki menjawab dengan malasnya dan ternyata ada seorang pria juga yang masih belum dapat kelompok seperti Yuki, dan Ia duduk dua baris dibelakang Yuki. Ternyata mereka mengangkat tangan dan juga berbicara secara bersamaan dengan nada setengah malas yang membuat mereka terlihat kompak.

“Jadi hanya kalian berdua yang belum dapat kelompok??” sang ketua tampak berpikir sejenak sambil melihat Yuki dan pria itu, “Apa ada yang mau satu kelompok dengan mereka berdua??” tanya sang ketua kepada anggotanya. Tapi anak-anak di kelas tidak ada yang mau memasukkan Yuki ataupun pria it uke dalam kelompok mereka, “Karena tidak ada yang mau dan banyak kelompok yang sudah penuh, bagaimana kalau kalian satu kelompok saja?? Apa kira-kira kalian sanggup??” tanya sang ketua kelas yang cukup kebingungan karena tidak ada yang mau satu kelompok dengan mereka berdua dan kelompok sang ketua sendiri sudah penuh.

Yuki hanya diam saja dan menganggukkan kepalanya sambil mencari-cari sosok orang yang akan satu kelompok dengannya dengan tangan yang masih terangkat, hingga akhirnya matanya bertemu dengan seorang pria yang nampaknya sedang menatapnya dengan tangan yang juga masih terangkat. Yuki tampak berfikir bahwa dengan dialah Ia akan mengerjakan tugas ini sendirian, karena selama ini tiap ada tugas berkelompok, Yuki selalu mengerjakan tugas itu sendiri. Tapi saat ini yang Yuki dan pria itu lakukan hanyalah diam saja dan sama-sama tidak bergeming sama sekali. Tanpa berpikir panjang Yuki langsung menghadap ke depan lagi untuk mendengarkan rincian tugas yang dijelaskan sang ketua kelas tanpa memperdulikan pria itu.

Tugas kelompok kali ini adalah membuat sebuah project komik digital yang harus benar-benar dikerjakan berkelompok untuk mendapatkan hasil yang memuaskan dan juga lebih cepat. Apalagi Yuki yang satu kelompok hanya berisikan dua orang saja, tentu saja tugas ini akan tampak sangat berat. Sesampai di kospun, Yuki langsung menuju ke arah meja belajarnya untuk mencari ide cerita yang akan dijadikan projectnya dan karena Yuki jago dalam hal menggambar, Ia juga menggambar tokohnya dengan cepat dan juga lihai. Besok Ia juga berencana memberikan idenya kepada teman satu kelompoknya yang entah siapa namanya bahkan Yuki tidak tau, yang ada di pikirannya Ia masih sedikit ingat wajah teman sekelompoknya. Ia mengerjakan tugas kelompok ini sendirian walaupun masih hanya menentukan ide cerita dan juga tokoh. Yuki memang sangat bisa diandalkan jika dalam hal menggambar dan juga mengarang cerita, bahkan Yuki sangat bisa diandalkan dalam berbagai hal. Bisa dibilang tidak ada yang tidak bisa dilakukan oleh Yuki.

¨¨¨

Keesokan harinya Yuki berangkat ke kampus sesuai jadwal dengan membawa map berisikan kertas-kertas tentang macam-macam gambar karakter dan juga ide ceritanya yang Ia buat kemarin. Ia hendak menunjukkan hasil kerja yang Ia buat kepada teman satu kelompoknya itu tentang project komik digital tersebut. Sesampai di kelas, hanya ada beberapa orang saja dan ternyata teman satu kelompok Yuki masih belum datang. Yuki duduk di bangku paling depan dekat dengan meja dosen seperti biasanya. Yuki sesekali melihat kebelakang kalau teman satu kelompoknya itu datang. Dan tanpa diduga-duga tidak lama kemudian Yuki melihat pria itu baru masuk ke dalam kelas, Yuki langsung mengambil map yang sudah Ia siapkan di atas meja dari tadi dan hendak bangun dari tempat duduknya. Tapi tiba-tiba…

Bruuugghh……

Yuki dan pria itu kemudian bertabrakan. Kepala Yuki tanpa sengaja menghantam dagu pria itu yang ternyata pria itu sedang menghampiri Yuki juga.

“Argh… Ini,” ucap pria itu sambil menyodorkan map bening berisikan kertas-kertas yang hampir jatuh berserakan karena tabrakan tadi sambil menahan sakit di dagunya. Setelah menyerahkan map tersebut, pria itu kemudian berbalik badan hendak meninggalkan Yuki yang masih cukup terkejut karena tabrakan tadi dengan kepala yang masih terasa berdenyut.

Yuki hanya diam saja, tapi Ia menarik tangan pria itu dan kemudian menyerahkan map bening miliknya tadi, “Bacalah juga punyaku!” ucap Yuki dengan dingin dan sinisnya yang kemudian Ia kembali duduk di bangkunya sambil mengusap-usap kepalanya yang masih terasa sakit dan mengeluarkan kertas dari map yang diberikan pria itu tadi. Sedangkan pria itu juga pergi menuju bangku yang kosong tidak jauh dari tempat Yuki.

Yuki melihat gambar dan juga ide cerita milik pria itu. Gambar dan juga ide cerita yang dibuat pria itu cukup bagus dan membuat tertarik orang yang melihatnya. Yukipun sedikit merasa tertarik dengan pria itu lebih tepatnya tertarik akan bakatnya. Kemudian Yuki menoleh ke belakang mencari sosok pria itu yang ternyata pria itu sama-sama sedang melihat isi map yang diberi Yuki tadi dengan ekspresi yang sangat serius. Dan saat ini Yuki sedikit penasaran dan tertarik dengan bakat pria itu.

‘Sepertinya kau cukup menarik juga. Tapi kenapa tidak ada yang mau satu kelompok dengannya?? Ternyata kau bisa membuatku penasaran juga,’ batin Yuki yang terus menatap pria itu dengan cermat, sedangkan pria itu hanya melihat map dari Yuki dengan serius dan berkonsentrasi tanpa memperdulikan segala hal di sekitarnya.

Continue reading this series: