Posted on

AKU INGIN SEKOLAH

Oleh : Arif Khoirul Anam
            Suara lantunan merdu sang Muadzin membangunkanku setelah tidur lelap panjangku. Petualangan mimpiku berakhir seketika setelah Ia memanggil. Segera saja aku bangkit dari ranjang dan merapikan kamarku yang terlihat sedikit berantakan. Setelah semua selesai, aku menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Selanjutnya aku bergegas menuju ke masjid di dekat rumah. Rupanya bapak dan ibuku telah menunggu di depan pintu. Bahagianya diriku bisa terlahir di keluarga luar biasa ini.
            “Cepat, nak. Sudah hampir dimulai sholat jama’ahnya. Nanti kita ketinggalan.” Ajak Ibu.
            “Iya, bu, sebentar.” Jawabku sambil sedikit berlari.
            Kemudian kita berangkat bersama-sama menuju ke masjid. Sesampainya disana, rupanya telah banyak orang-orang yang telah bersiap menunaikan ibadah sholat subuh. Segera saja ibu dan aku mengambil tempat. Tak lama kemudian sholat pun dimulai.
            Setelah sholat selesai, kami segera pulang ke rumah. Tak seperti anak-anak lain yang sibuk menyiapkan diri untuk sekolah, aku justru mempersiapkan diri untuk membantu ayah dan ibu. Ya. Aku memang tidak sekolah. Bukannya aku belum cukup umur, tapi biaya yang menghalangiku untuk mengenyam bangku pendidikan. Orang tuaku tak mampu untuk menyekolahkanku. Jadi apa boleh buat. Aku harus menunda keinginanku untuk bersekolah demi melanjutkan kehidupanku yang masih panjang.
            Sebelum matahari menebar senyum kepada seluruh dunia, kami telah berangkat mencari peruntungan. Tak ada sarapan untuk hari ini. Kami sudah terbiasa tidak makan pagi, karena memang tak ada yang bisa dimakan. Sebelum kami berhasil mengumpulkan barang-barang bekas dan di jual ke pengepul, kami belum bisa makan. Makanya kami harus bersusah payah dulu kalau mau mendapat sesuap nasi dan melanjutkan hidup hari ini.
            Kali ini kami harus berpencar untuk mencari rongsokan. Bapak menyusuri jalanan dekat kota. Ibu berkeliling kompleks dekat perumahan. Sedangkan aku sendiri harus mencari barang bekas di sekitar SD Harapan Makmur. Sebenarnya aku lebih memilih di dekat jalan raya saja daripada harus kesana. Aku malu dengan anak-anak yang bersekolah disana. Aku juga ingin seperti mereka.
            Setelah berjalan sekitar lima belas menit, aku pun tiba di tempat tujuan. Sempat rasa malu itu muncul kembali setelah beberapa siswa mengejekku. Mereka menyebutku sebagai anak pemulung.
            “Heii…… Kamu ngapain kesini. Pergi sana. Bau tahu.” Ejek salah seorang siswa.
            “Iya. Kamu pergi deh jauh-jauh. Kalo melihat kamu aku jadi enek. Pengen muntah.” Tambah teman siswa tadi.
            Aku hanya diam mendengarkan ejekan mereka. Tiba-tiba saja datang lagi seorang siswa. Namun tampaknya kali ini ia memiliki pemikiran yang bertentangan dengan kedua anak yang tadi. Meskipun begitu aku sempat merasa khawatir dan takut terhadapnya. Ia tampak begitu marah. Mukanya berubah seketika menjadi memerah. Entah ia tak suka dengan keberadaanku atau ia marah dengan kedua anak itu. Aku belum bisa menebak dan memastikannya. Hingga akhirnya ia melontarkan beberapa kata.
            “Heii… Pergi! Jangan ganggu dia.” Kata anak itu.
            “I…i…i…iya, kak. Maaf. Kami pergi deh.” Jawab kedua anak tadi sambil gemeteran dan kemudian lari terbirit-terbirit.
            “Kamu gak apa-apa kan?” tanya anak itu.
            Aku sempat terdiam cukup lama. Aku terpaku dan membisu melihatnya. Ia memang tampan dan menawan. Aku seperti sedang ada dalam mimpi. Seorang pangeran menyelamatkan sang putri dari penjahat. Haha… Aku menghayal.
            “Hello.. Kamu baik-baik aja kan?” tanyanya lagi sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan mukaku.
            “E…. e… Iya. Aku gak apa-apa kok. Makasih ya udah nolongin aku.” Jawabku setelah tersadar dari khayalan gila itu.
            “O ya.. Kenalin aku Riko. Nama kamu siapa?” tanya anak itu sambil menjulurkan tangannya kepadaku.
            “Emmmb… namaku… Si..” jawabku malu-malu.
            Teng…Teng…Teng… Tiba-tiba bel sekolah berbunyi dan memotong pembicaraanku. Ia segera berlari menuju kelasnya dan meninggalkanku disini sendirian.
            “Maaf ya. Aku masuk kelas dulu. Sampai ketemu lagi.” Teriak Riko sambil berlari.
            Gara-gara anak-anak itu aku jadi lupa mau ngapain. Setelah kepergian Riko yang menawan itu, aku pun segera melanjutkan pekerjaanku. Aku mengorek-orek tempat sampah yang ada disekitar sekolah itu. Apa pun barang bekas yang masih bisa dijual, semua ku angkut dengan keranjang yang ku gendong di punggungku.
            Tak terasa semua tempat sampah telah ku kunjungi dan kuambil sebagian dari isinya. Terasa lelah mulai melandaku. Mungkin karena aku belum sarapan tadi pagi. Rasanya perutku mulai meronta-ronta menginginkan sesuatu untuk mengisinya. Akhirnya aku pun mencari tempat yang teduh untuk beristirahat sejenak.
            Sambil istirahat, aku secara tidak langsung memperhatikan anak-anak yang sedang di ajar oleh gurunya di kelas mereka masing-masing. Sepertinya mereka begitu bersemangat dalam menerima pelajaran. Mereka selalu memperhatikan dengan seksama apa yang sedang di sampaikan oleh gurunya.
            Tiba-tiba saja air mataku menetes membasahi pipiku. Kapan ya aku bisa sekolah seperti mereka? Apa aku bisa dengan keadaanku seperti ini? Begitulah kiranya apa yang ada dalam benak dan fikiranku selama ini. Ketika aku sedang meratapi nasibku, tiba-tiba aku dikagetkan dengan juluran tangan beserta tisu yang berada dalam genggamannya. Sontak aku pun menoleh ke belakang sambil secara spontan kedua tanganku mengusap air mata yang membasahi pipiku.
            “Eh..Kamu Riko. Kok kamu bisa ada disini?” tanyaku.
            “Iya, tadi kan aku mau pulang. Trus aku ngelihat kamu sendirian disini. Jadi aku kesini deh. Kamu kenapa nangis?” kata Riko.
            “Ohhh… Aku gak apa-apa kok. Cuma iri aja melihat mereka bisa sekolah. Sementara aku kan gak bisa sekolah. Jadi aku terbawa suasana.” Jelasku.
            “Emmb… Ngomong-ngomong nama kamu siapa? Tadi kan belum sempat terjawab.” Tanya Riko.
            “Namaku Siti, kak.” Jawabku.
            “Riko? Ayo pulang! Udah mau hujan nih.” Panggil seseorang dari dalam mobil.
            “Iya, sebentar, pa.” Jawab Riko.
            “Eeee… Aku pulang dulu ya. Papaku udah manggil. Sampai jumpa.” Pamit Riko.
            “Iya. Sampai jumpa.” Jawabku.
            Karena langit sudah mulai gelap, aku pun segera pulang menuju ke rumah dengan sisa-sisa tenagaku. Beberapa saat kemudian aku tiba di rumah. Rupanya bapak dan ibu telah ada di rumah sedang menungguku untuk makan bersama.
            “Kamu kemana saja, nak? Ibu tunggu dari tadi kok gak pulang-pulang.” Tanya ibu.
            “Maaf, bu. Tadi aku masih istirahat. Jadi agak telat pulangnya.” Jawabku.
            “Ya sudah. Ayo makan dulu. Hari ini ada tempe sama kerupuk kesukaan kamu.” Ajak ibu.
            “Iya, bu.” Jawabku.
            Alhamdulillah. Menu makanan hari ini sangat istimewa bagi kami. Jarang-jarang kami bisa makan dengan lauk tempe sama kerupuk. Biasanya Cuma nasi ama garam atau kecap saja. Mungkin hari ini pendapatan kita sedang mencukupi. Tidak seperti biasanya.
            Ditengah-tengah kita makan, tiba-tiba terdengar suara orang yang mengetuk pintu gubug sederhana kami. Tak pernah kami kedatangan tamu sebelumnya. Biasanya yang datang adalah orang yang mau nagi hutang. Kemudian ibu menyuruhku untuk membuka pintu. Setelah aku membuka pintu, ternyata yang datang adalah Riko bersama orang yang memanggilnya dari mobil pulang sekolah kemarin yang ternyata ia adalah ayahnya Riko.
            “Mari-mari, silahkan masuk!” kataku.
            “Mari, pak. Silahkan duduk. Kalau boleh tahu, ada keperluan apa ya sehingga bapak berkunjung ke tempat kami?” tanya bapak.
            “Iya, terima kasih. Sebelumnya perkenalkan nama saya Burhan dan ini anak saya si Riko. Tujuan pertama kita datang kemari adalah ingin bersilaturahmi dengan keluarga ini. Lalu yang kedua, setelah mendengar cerita anak saya tadi, hati saya terketuk untuk membantu keluarga ini. Kami berniat untuk menyekolahkan anak bapak dan ibu. Jadi bagaimana, pak? bu?” jelas Pak Burhan.
            “Maaf, pak. bapak serius?” tanya bapak penasaran.
            “Iya. Saya serius, pak. InsyaAllah saya akan menyekolahkan anak ibu hingga sampai perguruan tinggi nanti.” Jawab Pak Burhan.
            “Ya Allah. Alhamdulillahi robbil ‘alamin. Terima kasih, pak. kami tidak tahu caranya bagaimana kami membalas kebaikan bapak. Hanya do’a kata terima kasih yang bisa kami berikan kepada bapak. Sekali lagi terima kasih, pak. Semoga Allah membalas segala amal kebaikan bapak. Amiin.” Kata bapak sambil berjabat tangan dengan Pak Burhan.
            “Iya, pak. Amiin. Kami senang bisa membantu bapak. Mulai besok, anak bapak sudah bisa masuk sekolah. Ini seragam dan perlengkapan sekolah untuk anak bapak.” Jawab Pak Burhan.
            “Terima kasih banyak, pak. Terima kasih.” Kata bapak.
            “Iya, pak. Berhubung hari sudah mulai sore, kami mohon undur diri, pak. Semoga kita bisa berjumpa di lain waktu.” Pamit Pak Burhan.
            “Iya, pak. Terima kasih atas kujungan dan bantuannya. Maaf kami tidak bisa menjamu bapak seperti layaknya seorang tamu.” Jawab bapak.
            Pak Burhan akhirnya pulang dan meninggalkan tempat kami. Ia telah memberikan sejuta kebahagiaan untuk kami. Ia telah mewujudkan mimpiku selama ini. Terima kasih Pak Burhan.
            “Akhirnya mimpimu bisa terwujud, nak. Kamu besok sekolah.” Kata ibu sambil mengelus rambutku dan terlihat air mata jatuh dari pancaran mata indahnya.
            “Iya, bu. Alhamdulillah. Akhirnya aku bisa sekolah.” Jawabku sambil tersenyum bahagia.
            Cahaya kebahagiaan tampak terpancar di raut muka keluarga kecilku nan sederhana ini. Dengan segala perjuangan dan do’a yang tak henti, akhirnya impianku bisa terwujud. Sungguh bahagianya diriku. Besok aku sudah bisa sekolah. Seakan aku tak percaya dengan semua ini. Semua tampak fana seperti halnya aku sedang bermimpi, namun ini adalah sebuah kenyataan. Aku senang sekali.

            Keesokan harinya, untuk pertama kalinya aku menginjakkan kaki di kelas untuk mendapatkan berbagai ilmu yang akan disampaikan oleh guruku nanti. Aku bertemu dengan teman-teman baru yang begitu baik menyambutku. Aku takkan menyia-nyiakan kesempatan ini. Karena tak semudah yang kita kira untuk mewujudkan sebuah mimpi. Butuh perjuangan dan kesabaran dalam menggapainya. Terus semangat dan tak mudah menyerah adalah kuncinya. Jangan pernah takut untuk mengejar dan meraih mimpimu meskipun badai besar menerpa dan menghempaskan dirimu. Kamu harus bisa melewati semua rintangan itu hingga akhirnya kamu mendapatkan buah dari perjuangan dan kerja kerasmu.

215 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini