Posted on

Aku Hanyalah Sebatas Masa Lalu Mu

Oleh : Yuni Naomi Ferawati

Pada suatu hari ada sebuah kisah, dimana kisahnya ini menceritakan tentang sepasang kekasih. Selama mereka pacaran, mereka jarang bertengkar namun tiba-tiba ada sebuah konflik yang  harus memisahkan mereka. Pengen tau konflik apa yang memisahkan mereka? Sebesar apa konfliknya? Simak aja ya ceritanya J
Taman Sekolah
“Hai Mil” sapa seorang cowok ke arah gue. “Hai juga” bales gue ke cowok itu dengan senyuman yng ramah. Cowok yang menyapa gue tadi bernama Andreas Rider. Sikap dia ke gue sangat perhatian, selalu ada untuk gue, selalu membuat gue tersenyum, pokoknya kami selalu bersama sejak kami masih kecil. Nama gue Saskia Mayla Pramuningsih, tapi orang-orang manggil gue dengan sebutan Mila, gue paling ga senang kalo dipanggil ningsih, entah kenapa gue juga heran tapi yang jelas menurut gue nama ningsih itu kampungan, norak,dll. Mami Papi iyas-panggilan untuk Andreas- sahabatan dengan Mami Papi gue, maka ga heran dong gue sama Andreas akrab banget, soalnya orang tua gue dan orang tua dia temanan dari masa-masa mereka masuk duduk di bangku Perguruan Tinggi, dia selalu baik sama gue, tiap gue ngebutuhin dia, dia selalu ada buat gue bahkan gue sampe ga tega menolak permintannya “Mil, pulang sekolah jalan yok?” ajak Andreas. “hmm males ah yas, gue lagi ga mood nih” tolak gue secara halus. “ah gitu lo mil, ga seru” kata Andreas ngambek, karena gue juga merasa ga tega ngeliat ekspresi mukanya yaudah tawaran dia gue iyain
 Rumah Gue
Gue dirumah selalu kesepian, hanya ada gue, kedua kakak gue, dua Asisten Rumah Tangga, dua Security, satu driver, dan satu tukang kebun dirumah gue tapi karena kedua kakak gue sibuk dan jarang ada dirumah terpaksa deh gue ditinggal sama ART, kedua satpam, satu sopir pribadi, dan satu tukang kebun. Orang tua gue selalu sibuk dengan pekerjaan mereka, karena harta yang begitu melimpah dan pekerjaan yang begitu banyak tak jarang gue melihat kedua ortu gue hidup dengan rukun, bawaannya kalau bertemu selalu ribut, tapi hebatnya mereka tidak pernah mengeluarkan kata-kata “mantra” yang paling ditakuti oleh anak-anak kalau sudah melihat orang tua mereka bertengkar tiap hari, yaitu kata “BERCERAI”. Dengan kesibukan ortu gue yang hampir tiap hari dan kurangnya mereka ada di rumah  menjadikan gue dan kedua kakak gue kurang kasih sayang sehingga membuat kedua kakak gue kurang peduli dengan keadaan sekitarnya tapi tidak untuk gue, gue sangat lembut dan peduli pada lingkungan sekitar. Oh iya, gue punya sepasang kakak, kakak gue yang berjenis kelamin perempuan bernama Queeneta Adelia dan kakak gue yang berjenis kelamin pria bernama Ali Alex Purwanto
*bunyi klakson mobil*
Dalam Rumah
 “tuh neng, temannya udah datang” kata Bi Inah, Asisten Rumah Tangga yang bekerja di rumah orangtua gue. “iya bi, aku pergi dulu ya, kalau orang rumah nanyain bilang aja aku lagi keluar sebentar” perintah gue ramah. “baik neng” sahut Bi Inah
“mau kemana neng?” tanya Pak Supri, Satpam di rumah gue dengan ramah. “ini Pak, mau keluar dulu sebentar sama Andreas” jawab gue dengan ramah. “cie… cie… anak muda jaman sekarang ya” goda pak Supri ke gue sambil tersenyum. “iih sih Bapak, ga kok cuma jalan berdua aja, lagian kan dia sahabat saya Pak, ga mungkin lah kita pacaran” jawab gue sambil tersipu malu. “etsih eneng kayak bapak ga pernah muda aja, dari sahabat bisa jadi cinta loh neng” kata Pak Supri dengan logat Betawinya. “ah sih Bapak, sok tau nih” jawab gue. “ye serius, lagian bapak ngedukung kok kalo kalian pacaran” kata Pak Supri sambil menggoda gue lagi. “ah sih bapak, udah ah kasihan tuh dia nungguin kelamaan” kata gue “oh iya Pak, kalau ada yang nanyain bilang aja lagi keluar sebentar ya” kata gue lagi sambil menuju mobilnya Andreas. “sip neng” jawab Pak Supri, setelah itu gue menuju ke mobil Andreas yang sudah menunggu dari tadi di depan rumah gue
Dalam Mobil
“maaf lama, Pak Suprinya noh iseng” kata gue ke Andreas sambil menutup pintu mobil. “iya ga apa-apa” sahut Andreas singkat. setelah gue tutup pintu mobil, dia langsung menancap gas
Di dalam mobil suasana menjadi hening yang terdengar hanya bunyi mesin mobil dan rintik-rintik hujan yang pada saat itu suasana memang sedang hujan, karena gue ga betah dengan suasananya gue langsung membuka percakapan. “yas” panggil gue. “iya” sahut Andreas sambil menoleh ke arah gue sebentar lalu kembali fokus menyetir. “kita mau kemana sih? Kalau ga punya tujuan, mending balik aja” kata gue penasaran, Andreas tidak menghiraukan ucapan gue, dia masih tetap fokus menyetir. Karena gue dicuekin, dari tadi gue pasang wajah cemberut sambil muka ditekuk tanda bete. “jangan cemberut gitu dong, nanti manisnya hilang” kata Andreas pelan. “hah? Lo ngomong apa barusan yas?” kata gue kaget dan penasaran. “emang gue ngomong apaan? Perasaan dari tadi gue nyetir deh” kata Andreas berbohong sambil menutupi kegugupannya. “untung mila ga tau” batin Andreas lega.
1 Jam Kemudian
Restaurant
Ternyata Andreas bawa gue ke Restaurant, tapi gue heran kok restaurantnya sepi, padahal gue tau banget Restaurant yang Andreas datangi sekarang terkenal ramenya dikarenakan menunya banyak, enak, murah, dan tempatnya juga bersih dan wangi.
“yas” panggil gue. “apa” sahut Andreas. “ini Restaurant yang terkenal itu kan?” kata gue heran. “iya, kenapa? Ada yang salah?” tanya Andreas heran. “ga sih tapi kok gue bingung ya ini kan katanya restaurantnya terkenal tapi kok sepi ya?” kata gue heran. “iya, sengaja, karena nih restaurant udah gue booking” kata Andreas santai. “hah? Booking? Dalam rangka apa? Kok cuma kita berdua doang?”  kata gue lagi. “bawel lo ah” kata Andreas bête sambil menuju ke bangku yang sudah di pesannya kemarin sore. ketika Andreas ngomong gitu gue langsung diem dan mengikuti langkahnya. Saat gue dan Andreas udah sampai di meja makan, Andreas memanggil waitersnya. “mau pesan apa Mba? Mas?” tanya waitersnya ke kami berdua. “lo mau pesan apa?” tanya Andreas ke gue. “saladnya satu mba” kata gue ke waitersnya. “minumannya?” tanya waitersnya lagi ke arah gue. “air putih aja mba, tapi ga dingin” jawab gue. “ok, udah itu aja Mba? Masnya mau pesan apa?” tanya waitersnya ke Andreas. “jus tomatnya satu mba” jawab Andreas. “udah ada lagi yang kurang?” tanya waitersnya ke arah kami. “untuk sementara itu dulu mba” kata Andreas ke waitersnya ramah. Setelah menanyakan pesanan kami, waitersnya langsung meninggalkan kami berdua. “tumben lo makannya salad? Diet lo?” ledek Andreas ke arah gue sambil tertawa. “ga” jawab gue singkat, Andreas langsung diem. Suasana sempat hening beberapa saat, sementara Andreas sedang mencari pertanyaan kenapa muka gue hari ini asem banget. “ortu lo bertengkar lagi?” tanya Andreas membuka percakapan kembali. Andreas tau banget tentang gue dan keluarga gue, jadi ga heran kalau dia tau kalau ortu gue sering bertengkar. “ga” jawab gue singkat. “lo juga, sejak kapan lo suka tomat? Bukannya lo alergi ya?” kata gue ke Andreas heran. “iya, tapi itu dulu, sekarang udah ga kok” jawab Andreas sambil tersenyum. ketika kami asik berbincang-bincang pesanan kami sudah datang, terpaksa kami harus menghentikan sebentar perbincangan kami. “ini Mba,ini Mas pesanannya” kata waiters itu ke kami dengan ramah lalu meletakkan pesanan kami di atas meja. “terima kasih mba” jawab gue ke waitersnya dengan ramah sambil tersenyum. “iya,sama-sama,  permisi” jawab waitersnya lalu pergi, dan saat waitersnya pergi Andreas langsung melanjutkan lagi pembicaraan kami. “lo belum jawab pertanyaan gue” kata Andreas ke gue yang pada saat itu gue sedang menikmati pesanan gue. “pertanyaan yang mana?” tanya gue ke Andreas sambil mengangkat kepala gue ke hadapannya. “lo kenapa dari tadi cemberut aja, dari gue pas jemput lo sampai sekarang?” kata Andreas penasaran sambil mengaduk-ngaduk pesanannya. “oh” kata gue yang memilih tidak melanjutkan pembicaraan gue, sementara Andreas memilih diem karena dia merasa percuma berbicara dengan gue dengan ekspresi muka yang super duper asem dan gue pada saat itu memilih untuk tidak peduli,
1 Jam Kemudian
Gue dan Andreas sudah selesai makan dan setelah itu kami memilih untuk menghabiskan waktu bersama sepanjang hari itu. “kita habis ini mau kemana lagi?” tanya Andreas setelah membayar billnya. “terserah, yang penting gue bisa berada lama banget di luar rumah” jawab gue santai. “ok, mau ke mall?” tawar Andreas, gue sempat berpikir lama dan akhirnya gue iyain ajakan dia. Mall yang kita tuju tidak jauh dari tempat makan kita tadi.
Mall
Gue dan Andreas sudah sampai di tempat yang kita tuju dan saat itu juga Andreas langsung menuju tempat parkiran untuk memarkir mobil
Tempat Parkiran
Dalam Mobil
“disitu aja yas” kata gue ke Andreas sambil menunjuk ke arah tempat yang kosong dan saat itu juga Andreas mengikuti saran gue, setelah beberapa menit akhirnya kami pun keluar dari mobil dan menuju ke dalam mall  namun ada hal aneh yang Andreas lakukan yaitu menggandeng tangan gue padahal dari dulu dia ga pernah menggandeng tangan gue kemana pun, dari kami masih kecil.
Tempat Parkiran
“lo ngapain gandeng tangan gue?” tanya gue ke Andreas dan saat itu Andreas menoleh ke arah apa yang gue maksud dan Andreas langsung menjawab dengan santai. “biar lo ga hilang” jawab Andreas sambil bercanda, tiba-tiba gue reflex memukul tangan dia dan langsung ketawa. “lo pikir gue bocah” jawab gue sambil bête lalu ketawa
Malam Hari
Setelah lelah seharian jalan-jalan akhirnya kami pulang, dan sialnya pada malam haripun kami mengalami kemacetan, yang biasanya gue bisa 2 jam di jalan dan sekarang gue harus menghabiskan waktu 5 jam di jalan, dan saat kami udah menghabiskan waktu selama 1,5 jam dijalan gue mulai dilanda bosan, suatu kelemahan gue yaitu cepat bosan, udah berbagai cara Andreas menghibur gue agar gue tidak bosan tapi dia gagal, mulai dari gue mengeluarkan ekspresi cemberut, marah-marah ga jelas ke Andreas, dengar lagu di handphone, ngacak-ngacak dashboard mobilnya Andreas hingga akhirnya gue ketiduran karena kecapean, tapi tenang aja selama kami mengalami kemacetan dan gue tertidur di dalam mobil, Andreas ga macam-macam, justru dia mengabarkan kakak gue kalau gue masih dijalan bersama dia.
Dalam Mobil
“ini kenapa sih? kok macet? Jalan kek” ocehan gue yang pertama. “ini masih belum jalan juga? Bakar juga nih mobil paling depan banget biar bisa jalan” ocehan gue yang kedua. “kok lo diem aja? Jalan kek” omel gue ke Andreas. “sabar Mila, macet” kata Andreas dengan lembut. “mau nyampe jam berapa? Gue cape” kata gue.. “paling 2 jam lagi” kata Andreas berusaha menghibur gue, gue diem untuk beberapa saat, habis itu gue ngoceh lagi. “kok masih disini aja? Kapan jalannya?” ocehan gue yang ketiga, karena cape ngoceh, gue mulai ngeberantakin mobilnya Andreas. “Mil, lo ngapain?” tanya Andreas sambil sesekali dia memandang ke arah depan mobil, tapi gue masih sibuk ngeberantakin dan tiba-tiba gue menemukan foto dia dengan cewek yang gue tau cewek itu pasti bukan gue dan tiba-tiba gue langsung diem dan gue merasa aneh, gue merasa hati gue langsung sakit dan tiba-tiba sesak nafas gitu, saat gue menemukan foto itu Andreas sama terkejutnya dengan gue, dia langsung salah tingkah, merasa serba salah, dia menyesal, dan tiba-tiba hatinya juga sakit dan sesak nafas juga. “itu foto gue sama mantan gue” kata Andreas berusaha menjelaskannya dan reflex gue langsung mengarah ke arah dia dengan ekspresi yang datar, berbeda dengan ekspresi gue yang tadi, yang ngoceh-ngoceh ga jelas karena macet sekarang gue malah memilih diem sambil memasang headset ke telinga gue hingga akhirnya gue pun tertidur
Keesokan Harinya
Gue merasa bingung karena tiba-tiba gue udah berada di kamar gue, namun saat gue duduk ditempat tidur, bayangan tadi malam yang bersama Andreas keinget kembali terutama yang didalam mobilnya yaitu gue menemukan selembar foto dia dengan cewek yang ga gue kenal, namun pada saat itu juga gue langsung menepis bayangan itu dan langsung menuju kamar mandi lalu setelah itu menuju ke meja makan
Meja Makan Rumah Gue
Gue, Bang Ali, dan Kak Queen tercengang ketika melihat Papa sama Bunda duduk bareng di meja makan. Sungguh kesempatan yang langka untuk kami bertiga
“Papa, Bunda” kata gue, Bang Ali, dan Kak Queen barengan. “iya sayang, kami ingin merasakan berkumpul bersama kalian, udah lama kan kita ga pernah melakukannya. Iya kan Pa?” tanya Bunda ke Papa. “iya” jawab Papa sambil tersenyum. “yakin ingin ngumpul bareng bersama kami? Nanti ada yang gangguin lagi” kata Ali ketus. “hahaha bener tuh, siapa tau dari tempat kerjaan mereka. Kalau ga ngomongin meeting ya palingan  kliendatang” kata Queen tersenyum sinis. “ga kok sayang” kata Bunda sambil tersenyum lembut. Ketika kami lagi asik ngumpul-ngumpul, handphone Papa dan Bunda berdering, ortu kami kembali sibuk seperti biasanya. Ketika melihat pemandangan itu, kami ga kaget lagi karena sudah terbiasa. Bang Ali senyum sinis, kak Queen acuh tak acuh, sementara gue memilih untuk pura-pura tidak peduli karena  perasaan gue masih sakit dengan kejadian semalam itu yang bersama Andreas
Beberapa Menit Kemudian
*handphone berdering*
“tuh kan benar, ah paling juga bilang biasa dari teman Papa, atau ga teman arisan Bunda telpon nih” sindir Bang Ali. Kak Queen hanya tertawa -tawa yg meledek- . “bentar ya sayang kami jawab dulu” pamit Papa sama Bunda ke kami bertiga. “halo” kata Papa dan Bunda barengan jawab telponnya lalu meninggalkan kami di meja makan. “gitu banget sih jadi ortu, baru seneng dikit dapat kesempatan berharga eh malah ada halangan” gerutu gue sendirian. “yaudah sih dek ngapain juga di pikirin, mereka aja ga mikirin kita” hasut Queen. “bodo ah, ga mikirin” kata Ali cuek. “ayo Sas kita berangkat” ajak Ali ke gue. “bang, aku juga nebeng dong sama abang, sekali ini aja” kata Queen ke Ali sambil memohon. “yaudah, cepatan” perintah Ali ke gue dan ke Queen
Sekolah gue
Gue udah sampe di sekolah gue. Ketika di sekolah, gue berubah diem tapi beberapa saat kemudian kembali ceria lagi. Ketika gue lagi sendirian, Rio dan Andreas datang, mereka sahabat gue.
Depan gerbang sekolah
Dalam Mobil
“sudah sampe tuh” kata Ali ke gue. Ketika Ali ngomong gitu, gue langsung turun, “ntar di jemput ga?” tanya Ali ke gue, gue yang mau buka pintu langsung berhenti sebentar. “liat nanti bang, ntar aku sms aja ya” jawab gue ke Ali. “ok” kata Ali, setelah itu gue turun.
Samping mobil
 “Kak, Bang, aku sekolah dulu ya”  pamit gue ke Queen dan Ali. “sekolah yang benar dek, jangan pacaran mulu” kata Queen dari dalam mobil. “apaan sih lo” jawab gue kesal. “sudah, sudah jangan berantem” lerai Ali pada kedua adiknya
Dalam Mobil
 “yaudah kita pergi dulu ya” kata Queen ke gue. Gue hanya tersenyum. “ayo bang” kata Queen ke Ali. ketika Queen ngomong gitu, Mobil Ali langsung melaju dan gue langsung masuk sekolah
Lorong Sekolah gue
Gue lagi asik jalan mau menuju kelas gue, tiba-tiba Rio dan Andreas datang mengagetkan gue. “Saskia” kata Rio dan Andreas mengagetkan gue dengan menepuk pundak gue, “kalian berdua ngapain sih? Ngagetin aja” kata gue bete, mereka hanya cekikikan. Ketika mereka cekikikan, gue langsung melototinmereka berdua, mereka langsung diem. “ya lagian lo, pagi-pagi udah ngelamun” kata Rio jutek. Rio memang beda dari Andreas, dia lebih care sama gue dibanding Andreas, kalau tentang fisik memang Rio kalah tampan sama Andreas tapi sebenarnya Rio memiliki wajah yang manis kok, dia setia kawan, anak orang kaya tapi dia ga pernah mau nunjukin kekayaannya karena dia tau itu semua punya ortunya, dia juga yang jadi penengah ketika gue sama Andreas mulai ada keributan-keributan, dia juga adalah  teman curhat gue yang paling setia dan baik hati. hingga akhirnya, cinta yang ga semestinya datang justru datang diantara gue dan dia tapi kami berdua ga saling berani untuk mengungkapkannya. “gue ga ngelamun. Jadi orang jangan sok tau ah” kata gue lalu meninggalkan mereka berdua. Ketika gue pergi tangan gue ditarik Andreas dan gue langsung berhenti. “sakit tau” rintih gue. “maaf.. maaf” jawab Andreas minta maaf. “ada apa lagi?” tanya gue. Ketika gue tanya begitu Andreas hanya diem. Ketika gue dan Andreas saling diam, Rio menghampiri kita. “yaelah Andreas, mental lo mental tempebanget sih, tinggal bilang aja, apa susahnya tau” sindir Rio yang membuat gue bingung. “ada apaan sih?” tanya gue heran. Ketika Andreas mau ngomong, tiba-tiba bel sekolah berbunyi
*bunyi bel sekolah*
“bel sekolah udah bunyi tuh tanda pelajaran udah mau di mulai, kalau mau bicara nanti aja pas istirahat atau ga pas pulang aja ya, bye” kata gue ke mereka berdua lalu pergi menuju kelas
2 jam Kemudian
Bel sekolah udah berbunyi tanda istirahat, tapi gue masih stay di kelas, gue males keluar kelas, gue memilih berdiam diri dikelas sambil mendengarkan lagu di Handphone gue
*bunyi bel sekolah*
Kelas gue
“ga ke kantin Mil?” tanya Lita dan teman-temannya ke gue. “kalian duluan aja, ntar gue nyusul kok” jawab gue ke Lita. “ok, kita ke kantin dulu ya, bye” kata Lita dan teman-temannya ke gue lalu pergi.
Ketika Lita dan teman-temannya keluar dari kelas, Rio dan Andreas menghampiri gue di kelas
Depan kelas
“Saskianya ada?” tanya Rio ke Lita. “ada tuh di dalam, masuk aja” kata Lita ramah, “ok, makasih” jawab Rio dan Lita langsung pergi
Kelas gue
Ketika mereka datang gue lagi nangis, gue ga menyadari kedatangan mereka
*lagi nangis sambil kepala di meja*. “Mil” panggil Andreas, gue masih ga menyahutinya. “Mil” panggil Andreas lagi, tapi tetap gue masih ga menyahutinya. “Mil,are you ok?” tanya Rio. Ketika itu juga, gue langsung menoleh ke arah mereka. “yaampun mil, lo kenapa? Kok mata lo sembab gitu?” tanya Rio. “ga apa-apa” jawab gue berbohong. “ga apa-apa gimana? Jelas-jelas mata lo bengep begitu, lo bilang ga apa-apa?” kata Andreas menimpali. “bengep?” tanya gue sambil mengernyitkan alis. “iya bengep, bengep itu mata lo sembab” kata Rio sambil menjelaskannya ke gue. “oh itu, gue cuma kelilipan aja ko” kata gue sambil berbohong, kedua sahabat gue tau kalo gue berbohong jadi mereka memilih untuk diam karena mereka tau kalo dilanjutkan gue tetep ga mau jujur. Ketika mereka diem, gue langsung curhat. “salah ga sih kalau gue pengen bahagia?” tanya gue ke Rio dan Andreas, mereka hanya menggeleng. “salah ga sih kalau gue pengen seperti orang-orang, yang tiap hari diantar dan dijemput oleh orangtuanya, tiap pagi di siapin sarapannya,tiap pulang sekolah di masakin makanan kesukaannya?” tanya gue lagi, mereka tetap menggeleng. Ketika gue cerita gue menyadari kalau mereka dari tadi ga ngomong. “kalian kenapa sih? Orang lagi curhat juga, malah diem aja” kata gue jutek. “lah terus kita harus jawab apa Mil?” tanya Rio bingung. “ah ga seru lo” bentak gue lalu pergi meninggalkan mereka di kelas. “mil” panggil mereka berdua sambil menghampiri gue
Lorong Sekolah
Gue cukup lama berdiam diri disini sambil membawa tas sekolah, gue berniat untuk bolos sekolah pada hari ini, karena gue benar-benar lagi badmood, gue badmood karena ortu gue jarang ada waktu buat gue dan gue badmood Andreas ga pernah cerita tentang mantannya, padahal gue selalu ceritain semua masalah gue ke dia, katanya dia ngakunya sahabat gue tapi kok gue aja ga tau kalau dia pernah pacaran, gue benar-benar sangat badmood. saat gue sendirian di lorong sekolah, tiba-tiba Andreas melihat gue dan dia langsung marah karena gue bolos sekolah. “Mila” panggil Andreas, gue yang sedang bengong langsung kaget saat tau Andreas memanggil gue, saat gue ingin pergi Andreas malah menghampiri gue. “lo ngapain disini? Lo ga masuk kelas?” tanya Andreas heran. “kelas gue udah pulang kok” jawab gue singkat. “jangan bohong, tadi gue lewatin kelas lo kok tapi ada gurunya sedang ngajar” kata Andreas.. “hmmm” kata gue sambil mikirin kata buat bohong ke Andreas. “lo ga akan bisa bohong mil dari gue, karena gue kenal lo udah lama, jadi gue tau kapan lo jujur dan kapan lo bohong” kata Andreas. suasana tiba-tiba hening. “soal waktu itu, gue..”kata Andreas tiba-tiba berhenti, “gue paham nih arah pembicaraannya kemana” batin gue. jadi gue sengaja menunggu Andreas menyelesaikan bicaranya. “gue..” kata Andreas sambil menggaruk kepalanya yang ga gatel. “gue minta maaf, karena gue ga pernah cerita ke lo soal percintaan gue” kata Andreas yang akhirnya menjawab dugaan gue. “tuh kan benar” batin gue. “kenapa lo harus minta maaf? Lo kan ga salah” jawab gue. “karena gue sayang sama lo, gue cinta sama lo, gue mau lo jadi pacar gue, makanya gue ga mau lo mikir kalau gue ngePHPin lo” kata Andreas panjang lebar yang membuat gue terkejut. “candaan lo ga lucu yas” kata gue marah ke Andreas. “emang muka gue lagi bercanda? Ga kan?” kata Andreas. “gue ga tau harus jawab apa” kata gue lirih. “lo boleh kok ga jawab sekarang, yang penting lo bisa lihat dulu kesungguhan gue gimana baru lo boleh ngasih jawabannya” kata Andreas bijaksana, sementara gue diem. “yaudah kalau gitu gue masuk kelas dulu ya.. bye” kata Andreas lalu meninggalkan gue sendirian
1 minggu kemudian
Kantin
Kami bertiga lagi ngumpul dikantin dan hari itu merupakan hari yang paling gue benci ternyata Rio menolak gue. sebenarnya dari kedua sahabat gue, gue lebih mencintai Rio daripada Andreas namun hari itu merupakan hari yang paling gue benci karena gue melakukan hal yang bodoh yaitu mengeluarkan pernyataan gue kalau bahwa gue lebih mencintai Rio daripada Andreas yang pada akhirnya membuat persahabatan kami hancur disaksikan ribuan pasang mata yang berada di tempat itu
“hai makan apa lo Mil?” tanya Rio tiba-tiba lalu duduk disamping gue. “makan mie ayam” jawab gue kepotong karena gue lagi memakan makanan gue. “lo ga makan?” tanya gue ke Rio. “ga, gue cuma pesan minum aja” jawab Rio. “Andreas mana?” tanya Rio. “mungkin lagi kelas” jawab gue singkat, 3 menit kemudian akhirnya Andreas datang juga. “nah kebetulan nih kita lagi ngumpul, ada sesuatu yang ingin mila bicarakan ri” kata Andreas yang membuat gue tersedak dan langsung diberikan air putih oleh Rio. “loh gue? emang gue mau ngomong apaan sih yas? Jangan bercanda deh lo” kata gue kesal. “jawaban yang minggu lalu Mi” kata Andreas ke gue sambil memberi kode dan gue langsung paham maksud omongan Andreas.. “apaan sih? kok kalian punya rahasia ga bagi-bagi ke gue” kata Rio yang penasaran. “ok gue akan jawab” kata gue pasrah.. “teman-teman dengarin ya, Mila punya pengumuman yang penting nih” kata Andreas berteriak yang membuat seluruh penghuni kantin berkumpul. “jangan konyol lo yas” bisik gue ke Andreas sambil menahan malu. Sementara rasa penasaran Rio semakin besar. “ada apa sih Mil? Cerita dong” tanya Rio. “ayo dong Mil, lo mau ngomong apaan” kata Dita dari kelas 3 SMA jurusan Bahasa. “iya nih, jangan bikin kita kepo deh” timpal Gabriel dari kelas 3 SMA jurusan IPS. “ ok ok gue akan kasih tau kalian” kata gue pasrah. Gue langsung menarik nafas lalu gue keluarkan dan gue mulai bicara. “minggu lalu Andreas nyatain cinta ke gue dan gue berjanji minggu ini akan gue jawab dan jawabannya adalah..” gue diem sejenak yang membuat seluruh penghuni kantin saling berbisik penasaran. “tenang, tenang, gue akan lanjutkan. Sebenarnya dari kedua sahabat gue ini, gue udah lama menyimpan perasaan pada… Rio” kata gue yang pada akhirnya ga berani melanjutkan lagi karena gue sudah melihat ekspresi yang ga enak dari kedua sahabat gue itu.. dan tiba-tiba Rio angkat bicara.. “mohon perhatiannya teman-teman, sebelumnya gue mau berterimakasih sama Mila udah menyimpan rasa sama gue, sebenarnya gue juga mencintai dia tapi hanya sebatas teman, ga lebih dari itu, buat Mila maaf gue ga bisa membalas perasaan lebih dari yang lo harapkan.. buat Andreas, maaf kalau sekarang lo menganggap gue adalah rival lo, tapi jujur gue ga ada perasaan lebih dari teman sama Mila.. maaf” kata Rio lirih lalu pergi meninggalkan kantin. Sejak kejadian itu kami bertiga jadi berpisah dan berjalan sendiri-sendiri, persahabatan kami hancur
1 Bulan Kemudian
Lorong Sekolah
Gue ga sengaja ketemu Rio di lorong sekolah namun saat gue menyapa dia, dia langsung menghindari gue.
“hai ri” sapa gue dan menghampiri dia namun saat gue mulai melangkah sebanyak 10 langkah, dia langsung pergi, pas dia pergi gue langsung diem ditempat seolah-olah saraf-saraf di kaki gue pada mati
Kamar Mila
Hari ini gue lagi malas beraktivitas pengennya tidur-tiduran aja dikamar dan berharap Andreas menghubungi gue namun yang gue harapin belum juga menghubungi
Andreas kemana ya? Kok ga chat gue sih” batin gue gelisah, dan tanpa gue sadarin gue lah yang memulai chat dia lewat Whatsapp
“WA gue ga di bales? cuma di read doang? Segitu marahnya kah dia sama gue?” batin gue sedih
2 minggu kemudian
Akhirnya Andreas memaafkan gue dan gue juga udah benar-benar tulus mencintai dia, sekarang persahabatan kami utuh kembali dan Rio juga udah memaafkan gue, dan kini kami sedang sama-sama fokus belajar untuk meraih nilai tertinggi agar bisa keterima di Perguruan Tinggi ternama di Jakarta
1 Tahun kemudian
Hari ini gue dan Andreas anniversary yang pertama, tapi kami ga merayakannya karena lagi sama-sama sibuk tes di Perguruan Tinggi manapun, sementara Rio sudah keterima di sekolah pelayaran, kami saling ngucapin saat pengambilan SKHUN sementara buat syarat masuk di perguruan tinggi
SMA PELITA HARAPAN
happy anniv ya sayang, semoga langgeng dan ke terima di perguruan tinggi favorite” kata Andreas. “happy anniv juga sayang, tetap sabar ya menghadapi mood ku yang suka naik turun hehehe, semoga masuk perguruan tinggi favorite juga” kata gue sambil tersenyum manis ke arah Andreas, kami tidak berharap kalau suatu saat kami berjodoh yang penting sekarang prinsip kami adalah jalanin aja dulu yang sekarang, kedepannya mah liat nanti
3 Tahun Kemudian
Hubungan gue dan Andreas sudah memasuki usia 3 tahun, kami satu kampus tapi beda Fakultas. Gue mengambil Fakultas Ilmu Komunikasi dan dia mengambil Fakultas Teknik Arsitektur, yang otomatis membuat kami jarang bertemu dikarenakan kami sibuk dengan tugas kuliah masing-masing  namun walau begitu kami jarang bertengkar, terakhir bertengkar yang waktu itu doang, yang membuat persahabatan kami hancur namun disaat hubungan kami lagi adem-adem aja ada seseorang yang memprokator orangtuanya untuk membenci orangtua gue dan orangtua dia berhasil diprovokasiin dan akhirnya orangtua kami bertengkar hebat yang mengakibatkan gue dan Andreas harus benar-benar mengakhiri hubungan kami
“yang, bagaimana ini? Aku ga mau pisah dari kamu” kata gue sedih namun tiba-tiba Andreas memeluk gue untuk menenangkan hati gue. “kita cari sama-sama ya solusinya” kata Andreas penuh perhatian. “tapi kalau ga dapat gimana?” kata gue pesimis. “jangan gitu sayang, jangan menyerah, kita belum nyoba loh masa udah nyerah duluan sih” jawab Andreas sambil tersenyum ke arah gue
6 Bulan Kemudian
Kami menyerah, kami ga menemukan solusinya dan hingga akhirnya gue dapat kabar bahwa Andreas telah dijodohin sama keponakan teman arisan mamanya, disitu kami sama-sama sedih dan di hari pernikahan Andreas pulalah bahwa ternyata kebenaran itu berpihak pada kami bahwa orangtua kami telah diadu domba oleh rival mereka. Dan saat pesta pernikahan Andreas dimulai, gue menghadirinya dan memberikan surat sebagai kata-kata terakhir dari gue.
 Isi Suratnya


357 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini