Posted on

22 Desember

Oleh : Leonart Maruli

Robby terkunci di dalam kantor saat menemukan dirinya tertidur di ruang kerja. Ia sudah ke lantai paling bawah ketika folding gate sudah digembok dengan rapat. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Robby masih merasakan kantuk dan mencari apakah ada kopi yang bisa diseruputnya. Ia membuka laci pribadinya untuk mengambil satu sachet kopi yang dibelinya tadi siang. Ia pergi melangkah mendekati dispenser dan menyeduh kopinya di sana. Tidak ada yang bisa dilakukan selain menunggu matahari pagi terbit. Empat hari belakangan ia bekerja sampai pukul satu dini hari di kantor karena mengejar target pekerjaan akhir tahun. Robby mungkin kelelahan karena jarak dari rumah ke kantornya cukup jauh. Ia berangkat dari rumahnya di Serpong pukul setengah enam pagi selama lima hari dalam seminggu ke kantornya yang berada di Kemang. Tidur baginya saat ini adalah satu-satunya jalan untuk memulihkan keletihan yang sangat. Robby yakin bahwa dirinya juga dikerjai oleh beberapa temannya karena sudah tertidur lelap. “Pasti mereka bersekongkol dengan Mas Yanto,” batin Robby. Mas Yanto baru akan datang pukul tujuh pagi untuk membuka folding gate dan tidak ada kesempatan baginya untuk pulang ke rumah dulu sebelum berangkat ke kantor lagi.

Dari lantai tiga ternyata terdengar suara langkah kaki. Langkah kaki itu bersuara seperti langkah kaki perempuan di benak Robby. Suara langkah kaki itu adalah suara langkah kaki yang berbunyi akibat sentuhan hak tinggi dengan lantai. Bunyi langkah kaki yang anggun itu bisa didengar Robby sambil menyeruput kopinya dengan nikmat.

“Ya, paling tidak aku bisa memiliki teman untuk mengobrol,” begitu pikir Robby.

Robby kemudian membuka laptopnya untuk menghilangkan kepenatan. Ia menaruh cangkir kopinya di sebelah kiri laptopnya dan mulai menggerakkan mouse untuk mencari berita yang bisa menghiburnya malam ini. Ia membuka beberapa media massa daring dan membaca beberapa berita politik. Robby sebenarnya bukanlah orang yang suka mengikuti berita politik di media massa, dia membukanya hanya ingin mencari suasana baru karena selama ini ia hanya membuka berita sepakbola. Ia hafal pemain sepakbola yang masuk dalam isu transfer, ia tau kapan jadwal pertandingan akhir pekan yang akan membuatnya betah bermalam minggu di rumah dan termasuk gosip keretakan tim sepakbola.

Saat membuka berita yang dianggapnya bisa menarik atensinya, ia kembali menyeruput kopinya. Sebagaimana pembaca berita zaman lalu, tidak ada yang paling menyenangkan di dunia ini ketika membaca berita sambil meminum kopi. Robby mulai heran. Kenapa suara langkah kaki perempuan tadi juga tak kunjung mengetuk pintu ruang kerja ini. Apakah dia tidak melihat lampu yang masih menyala di ruangan ini? Akhirnya, Robby memutuskan untuk pergi ke lantai 1 dan 3 untuk mengecek ruangan. Siapa tau perempuan itu ada di sana.

Robby turun ke lantai 1 dan menemukan lampu masih menyala di ruang kerja. Ia mengetuk pintu dan mengucapkan salam.

“Hai Nina, kamu ternyata belum pulang juga? Kenapa kau bisa terkunci di dalam?” tanya Robby.

“Aku tadi yang menyuruh Mas Yanto untuk mengunci kantor. Aku ingin menginap di kantor untuk menyelesaikan pembukuan tahunan. Aku kira sudah tidak ada orang ternyata masih ada kamu di dalam ruangan. Aku benar-benar minta maaf soal ini,” ucap Nina.

“Oh ya, aku bahkan tidak menyadari kalau ini sudah tanggal 22 Desember,” ujar Robby.

“Ya, akhir tahun selalu menjadi pekerjaan yang berat untuk akuntan di perusahaan manapun,” jawab Nina.

“Apakah aku mengganggumu?” tanya Robby

“Tidak, tidak, asalkan kau memberikan waktu kepadaku untuk menyelesaikan pembukuan tahunan ini.”

Robby kembali ke ruang kerjanya dan duduk kembali di meja kerjanya. Demi menghilangkan kepenatan yang dialaminya, ia membuka video di Youtube. Ia ingin melihat penyanyi favoritnya Ariana Grande. Robby tersenyum-senyum melihat layar laptopnya sambil membayangkan betapa menyenangkan hidup ini jika bisa memiliki pacar seperti Ariana Grande. Beberapa tumpukan kertas yang ada di mejanya mulai dirapikannya. Ia memasukkannya ke dalam Bindex yang tersedia di atas meja. Besok adalah hari kerja terakhir sebelum libur akhir tahun. Sempat terlintas dalam benak Robby kalau malam ini ia akan menyelesaikan target Key Performance Indicator yang belum rampung. Sehingga besok pagi ketika Mas Yanto datang membuka kantor, ia bisa pulang ke rumah. Bagi Robby tidak ada yang paling menyenangkan selain menikmati hari libur lebih cepat dibandingkan rekan-rekannya. Dia bisa mengatakan kepada atasannya kalau malam ini ia terkunci di dalam kantor dan sudah mengerjakan target kerja akhir tahunnya sampai selesai. Robby sama seperti kebanyakan karyawan hampir di seluruh penjuru dunia. Zat serotonin di dalam tubuhnya akan terpacu lebih deras ketika hari libur panjang sudah dekat.

Robby bergegas untuk memandang laptopnya dengan tingkat kesadaran dan fokus yang tinggi. Ia membuka beberapa file yang harus diselesaikannya. Ia mengerjakan tugas-tugasnya dengan tempo yang cepat. Ia ingin sebelum matahari terbit ia masih bisa beristirahat sebentar. Ia membuka jendela dan mematikan AC yang ada di dalam ruangan. Ia ingin merokok sambil mengerjakan tugasnya. Saat tidak ada siapapun di kantor ini selain Nina ia bisa merasa memiliki ruang gerak yang sedikit bebas untuk merokok di dalam ruangan. CCTV yang ada di dalam ruangan tidak ia pedulikan sama sekali. Robby bukanlah orang yang sering membuat masalah di kantor, jika sesekali ia melakukan kecerobohan seperti merokok di ruangan kerja, ia tidak akan langsung dipecat. Lagipula, jika HRD memutar ulang rekaman CCTV di dalam ruangan ini, ia akan memahami kebosanan yang dialami Robby karena tidak bisa keluar ruangan. Terlebih karena dirinya belum makan malam. Ia mulai membakar rokok Lucky Strike yang dikeluarkannya dari kantong baju kemejanya dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Suara hak tinggi Nina kemudian kembali terdengar di telinga Robby.

“Katanya sibuk tapi mondar-mandir,” gumamnya dalam hati.

Robby sengaja tidak memanggil Nina saat langkah kaki perempuan itu berderap menyentuh anak-anak tangga. Robby tau bahwa seorang lelaki harus menjual mahal dirinya di depan perempuan. Lagipula Nina sudah memberikan isyarat bahwa dirinya tidak ingin diganggu. Robby tahu bahwa hanya segelintir perempuan di dunia ini yang mampu bertahan lama di dalam suasana sendirian. Pernah Robby melihat Nina bersenda gurau dengan Ajeng sambil membicarakan soal pacar baru Ajeng. Saat itu Robby yakin bahwa Nina adalah seorang perempuan feminin bukan femisi. Jadi, tidak ada salahnya untuk menunggu Nina yang menyapanya terlebih dahulu.

Robby sudah menjalani tahun ketiganya di perusahaan ini sebagai seorang Business Analyst. Dua tahun lalu Robby mendapatkan hadiah dari perusahaannya sebagai the best newcomer dalam acara tahun baru yang diadakan perusahaan. Sebagaimana kebanyakan para pendatang baru di perusahaan baru biasanya mereka memiliki keuletan yang lebih tinggi dibandingkan karyawan lama. Sebagaimana kebanyakan sistem industri di manapun, karyawan yang telah bertahun-tahun bekerja di satu perusahaan rata-rata memiliki penyakit utama yaitu kemunduran inovasi. Robby berpikir bahwa kreatifitas manusia cenderung akan lebih tumpul (bukan tajam) jika ia selalu mengerjakan pekerjaan yang itu-itu saja di dalam hidupnya. Robby berpikir aneh sekali jika ada motivator yang mengatakan bahwa kreatifitas manusia tidak terbatas. Robby mengetahui betul bahwa masa kematangan itu selalu ada sebagaimana masa kemunduran. Bagi Robby, keahlian yang meningkat justru adalah intuisi dan kecerdasan praktis dalam menyelesaikan masalah-masalah pekerjaan. Intuisi dan kecerdasan praktis yang terlatih membuat hampir semua karyawan yang telah bekerja bertahun-tahun menjadi seorang ahli (bukan kreatifitasnya). Maka dari itu Robby sadar sepenuhnya dan tidak menganggap penghargaan the best newcomer yang didapatkannya sebagai hal yang terlalu penting.

Udara dingin mulai masuk melewati ruangan kerja Robby. Jam sudah menunjukkan pukul satu pagi dan masih ada beberapa pekerjaan yang belum selesai dikerjakannya. Rasa kantuknya mulai hilang karena kesadarannya yang sudah terkumpul. Nina mengetuk pintu ruang kerja Robby untuk pertama kalinya sejak langkah kakinya terdengar di tangga gedung. Nina langsung masuk dan menghampiri Robby yang menatapnya dari kejauhan. Terlihat Nina sedang membawa secangkir kopi. Robby takjub ketika melihat Nina berjalan dengan anggun mengenakan sepatu hak tinggi, rok selutut, blazer dan rambut sebahu yang dibiarkan terurai.

“Luar biasa,” gumam Robby dalam hati sambil membuang wajahnya ke arah laptop.

“Kenapa kamu? Kok, seperti orang yang tidak pernah melihatku sebelumnya?” tanya Nina.

“Perempuan biasa terlihat lebih cantik di kala matahari sudah tidur dalam peraduannya,” rayu Robby.

“Gombal. Jaga perkataanmu. Ingat ini kantor,” jawab Nina sambil terseyum.

Robby sempat memandang wajah Nina sekilas sebelum memalingkan wajahnya kembali ke laptop. Robby sebelumnya tidak pernah menggoda perempuan di kantor. Robby tipe lelaki yang pemalu jika harus merayu perempuan di depan banyak orang.

“Aku masih punya kopi jika kau menginginkannya,” kata Nina yang melihat kopi milik Robby sudah tinggal ampasnya saja di gelas.

“Aku tidak mengantuk lagi Nina. Aku sudah meminumnya tadi,” jawab Robby.

“Ya, aku tau. Aku melihat gelasmu. Siapa tau kau ingin tidak tidur sepanjang malam ini,” ujar Nina sambil terus melihat mata Robby dari samping.

Bulu roma Robby mulai berdiri. Dia tau ada yang mulai tidak beres dengan hormon adrenalinnya. Robby hanya bisa menatap laptopnya sambil sedikit tersenyum. Ia tidak berani untuk menatap wajah Nina dari dekat.

Nina duduk di kursi yang berada di samping meja Robby. Ia duduk dengan tungkai kaki yang membuka. “Kurasa kau mulai menggodaku,” kata Robby yang mengatakannya tanpa memalingkan wajah ke arah Nina.

“Apa maksudmu?”, tanya Nina.

“Kau memperlihatkan bagian tubuhmu yang intim,” kata Robby.

Nina mengetahui dengan jelas apa yang dimaksud oleh Robby. Nina tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk melakukan pukulan KO. Nina mengangkat kedua kakinya yang jenjang dan melilitkannya pada leher Robby. Robby tersentak namun tak bisa bergerak. Ia seperti dililit oleh ular piton. Nina memiting leher Robby dengan kedua kakinya sehingga lelaki itu kesulitan bernapas. Robby mencoba melawan dengan mengangkat kedua kaki Nina dari lehernya namun ia kalah sigap dari Nina. Hanya selang beberapa detik kemudian Nina mengeluarkan pisau dari saku bajunya yang diambilnya dari pantry di lantai atas lalu menghujamkannya berkali-kali ke dada Robby sampai paru-paru lelaki itu terkoyak-koyak. Darah bercucuran deras, membasahi seluruh kemeja Robby, tatapan matanya kosong, dan tak menunjukkan kehidupan.

 

Juli, 2016

341 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini